Aris Setyawan's Another Sh*t Site

About

Rumah baru untuk omong kosong Saya.

PHP (Pemberi Harapan Palsu)

 

Harapan adalah anugerah paling besar yang membuat manusia bergerak mengubah dunia. Tentu banyak orang setuju dengan pernyataan tersebut. Sekeras apapun jalan hidupmu, selama ada harapan, niscaya akan selalu ada jalan mengubahnya menjadi lebih baik dan menyenangkan. Karena dunia ini indah selama ada harapan yang…..

            Ok, cukup sudah utopia di paragraf pertama. Seperti biasa tulisan saya (yang entah ada yang mau baca atau tidak) harus menghadirkan dystopia, agar status saya sebagai penganut Orwellian tetap kukuh. Sah-sah saja jika kemudian kita menggunakan mekanisme terbalik dan justru menyatakan “harapan adalah siksaan terbesar bagi manusia.” Kenapa? Karena kita sudah nonton The Dark Knight Rises, dan setelah berbagai adegan rekaan Nolan (yang sebenarnya adalah representasi anarkisme ala Bakunin), tibalah di adegan dimana Bruce Wayne alias Batman tertangkap oleh Bane, lalu dijebloskan ke sebuah penjara berbentuk sumur. Dimana tiap tahanan didalamnya bisa melihat langit diatasnya, dengan sejuta asa “suatu hari nanti saya akan memanjat dinding sumur ini dan bebas dari penjara.” Namun kebebasan itu tak pernah terjadi, semua tahanan tetap tertahan didalam. Beberapa sampai mati terpenjara. Inilah saat Bane berkata “harapan adalah siksaan paling kejam bagi manusia. Ia memberimu mimpi tinggi tentang kebebasan, hanya untuk menjatuhkanmu dengan sakit.”

            Karena kita adalah Sisifus persis yang dijabarkan Albert Camus, manusia yang tahu pasti hidup ini absurd dan menyiksamu dengan harapan, tapi kita tak punya pilihan lain, kita harus tetap menjalani hidup ini. Layaknya Sisifus yang dihukum dewa Yunani untuk mendorong batu besar ke atas gunung, hanya untuk melihatnya menggelinding jatuh kebawah, dan Sisifus harus mendorongnya lagi. Hidup ini adalah PHP, Pemberi harapan palsu. Dan PHP ini mengejawantah dalam berbagai bentuk, dalam berbagai aspek hidup.

            Karena sama seperti makan, seks, dan cinta. Harapan adalah kebutuhan dasari manusia. Maka ekonomi harus mengkomodifikasi harapan, agar dapat diperdagangkan seperti saat ekonomi menjual makanan, seks, dan cinta. Jadilah industri harapan yang dengan salam supernya membumbungkan tinggi asa anda akan kehidupan yang lebih baik dan kekayaan melimpah ruah. Industri motivasi harapan ini lantas digugat oleh Belkastrelka dalam pertunjukannya yang bertajuk “Jalan Emas.” Rabu malam itu di teater Garasi, dalam presentasi tertutup, saya melihat bagaimana Belkastrelka melontarkan satire-satire menggelitik namun bikin marah mengenai bisnis milyaran penjual harapan ala motivator dan bisnis MLM. Suara mendesah Asa, bunyi elektronik dari laptop Yennu, dikawinkan dengan trumpet Erson, vocal membahana Diwa, dan Betotan bass Gisa dengan vokal latar centilnya membuat saya makin yakin “tuh kan bener, harapan itu siksaan paling besar untuk umat manusia.”

            Karena senyum culas para motivator pengumbar harapan itu bukan sekadar perkara mencari keuntungan untuk mereka sendiri. Pengumbar harapan itu ada sebagai sesuatu yang Marx sebut sebagai “candu masyarakat.” Saat kekayaan global di dunia hanya dikuasai segelintir orang kaya, dan kaum menengah serta yang miskin jumlahnya lebih banyak. Mereka harus dibuat diam, agar tidak berontak. Salah satu caranya adalah dengan memberikan mereka harapan-harapan bahwa semua orang di dunia ini punya probabilitas yang sama untuk menjadi kaya-raya. Maka gencarlah khotbah-khotbah para motivator yang terus menerus berkata “selama kamu bekerja keras, maka kamu akan memiliki rumah mewah, mobil bagus, kapal pesiar, dan harta lainnya.” Jadilah semua orang mengamini khotbah motivasi itu, bekerja giat setiap hari, berharap kelak menjadi kaya raya. Tanpa sadar mereka menjadi korban PHP: mereka, dan kita adalah sekrup, bagian dari mekanisme besar yang harus berjalan agar supaya mesin produksi para orang kaya itu terus berjalan. Sementara kita terus bekerja tanpa lelah, para motivator tersenyum riang pundi uangnya menebal hasil menjual ceramah di stasiun TV, undangan seminar, atau buku best-seller di rak-rakself-help toko buku kinclong di mall kota. Dan seperti yang diteriakkan Asa Darling “kita tak akan pernah jadi kaya, hahahahaha.” Marilah menertawakan nasib kita sebagai sekrup dan mur baut mesin kekayaan segelintir orang.

            Karena harapan menjadi kaya ini sudah ditanamkan kepada kita semenjak duduk di bangku sekolah, terutama di bangku kuliah dimana disiplin ilmu kita sudah difokuskan pada satu bidang tertentu agar menjadi sarjana nan bijaksana. Kita memiliki harapan besar dengan bersekolah kita akan membangun bangsa menjadi lebih baik. Namun  rupanya pendidikan negeri sekalipun adalah PHP. Karena harapanmu akan pupus selepas wisuda. Masuklah dirimu ke mekanisme besar tadi, jadilah dirimu sekrup, sudahlah lupakan idealisme ala semangat “agent of change” mahasiswa yang dulu kau dengungkan. Karena badanmu kini adalah milik mekanisme besar itu. Kuliahmu dulu adalah penyeragaman dengan berbagai kurikulum dan hafalan. Agar saat lulus kau jadi sarjana penghafal, yang akhirnya tak mampu membikin sesuatu yang baru. Kau harus seragam seperti orang lain: bekerja, mengabdi pada kantormu, entah kantor negeri maupun swasta karena toh sekarang negeri atau swasta tak ada bedanya, semua mengabdi pada pemodal. Selamat datang di dunia nyata nak, tempat dimana nasibmu disetir oleh orang kaya dengan modal tak terbatas di luar sana. Mau melawan? Lawanlah jutaan manusia Indonesia, dan milyaran manusia dunia. Karena mereka semua sudah diseragamkan agar melayani apa saja mau orang kaya itu.

            Cinta adalah harapan yang juga menyiksa. Ia meninggikanmu dengan perasaan berbunga-bunga. Menyiksamu dengan rindu, menguras air matamu, membuatmu tersenyum girang hanya karena sang kekasih mengirim pesan singkat. Cinta memberikan harapan bahwa kalian akan terus berdua. Hanya untuk menjatuhkanmu dengan keras saat akhirnya kalian harus berpisah. Lalu memaksamu tersenyum saat cinta lama bersemi kembali (CLBK). Dan menamparmu dengan kenyataan getir: berpisah lagi, karena sadar selama ini sang kekasih tak pernah benar-benar mencintai, ia hanya mencari sensasi. Aneh, jika manusia sudah tahu perihal siksaan cinta ini, mengapa mereka tak mau belajar dari sejarah? Sejarah yang mencatat berbagai kisah memilukan manusia yang menjalani percintaan. Kenapa manusia masih mau jatuh cinta? Adakah cinta yang sebenarnya? Karena cinta yang katanya tulus pada akhirnya tak lebih dari sebuahtemplate yang sudah disetting jalannya dengan ketemuan-pdkt-pacaran-cinta-mesra-ngambek-marahan-putus-balikkan-mesra lagi-putus beneran-mulai cari target pdkt baru-mengulang proses yang sama. Ah lagi-lagi kita harus mengamini absurditas hidup ala camusian: hidup (cinta) itu aneh, kita sudah tahu proses perjalanannya, sudah tahu siksaannya, tapi kita tetap saja dengan ikhlas menjalaninya.

            Seperti itulah sikap kita terhadap harapan. Kita tahu ia adalah siksaan paling kejam untuk manusia, namun kita harus tetap menjalaninya, karena ini adalah hidup, sesuatu yang harus kita jalani. Lalu jika kita tak bisa percaya pada motivasi harapan hidup ala bang Mario, lalu kepada siapakah kita harus percaya? Saya perlu meminjam perkataan Haruki Murakami bahwa “di dunia ini, kita harus bergantung pada diri kita sendiri.” Karena kita sendirilah yang tahu seberapa besar kemampuan diri kita, seberapa kuat kita mampu menahan siksaan harapan tersebut. Orang lain tak pernah tahu kapasitas kita, mereka cukup menjadi pendengar. Kita cukup menjadi pembicara yang curhat keluh kesah kita pada teman terdekat, atau pada siapapun, selebihnya kita sendirilah yang tahu apa solusi terbaik menyelesaikan berbagai masalah.

Maka teruslah berharap sekalipun tahu ada siksaan pedih dibaliknya, dan anda menjadi korban PHP alias pemberi harapan palsu. Karena terkadang diantara seribu harapan kandas, akan ada satu yang terwujud, sebagai semacam hadiah hiburan barangkali. Persis seperti penjara sumurnya Bane yang memenjarakan banyak orang begitu lama tanpa ada yang bisa berhasil kabur. Namun suatu hari entah karena memang pintar atau faktor keberuntungan saja, Bruce Wayne berhasil menjadi satu diantara seribu itu, lalu memanjat keatas, menuju kebebasan. Atau boleh juga dibilang keberhasilan Bruce memanjat keluar sumur sudah diskenariokan agar sang pahlawan kembali beraksi di jalanan Gotham, soalnya kalau Bruce terus terperangkap di sumur, cerita filmnya bakal membosankan. Sama seperti hidup kita. Kita sudah tahu ada skenario bernama takdir yang mengatur hidup kita, tapi kalau kita diam di dasar sumur tanpa harapan, bakal membosankan dong. Makanya tetaplah memanjat sumur itu dengan harapan penuh siksa tersebut. Saat tak kuat pedihnya siksaan, berceritalah pada teman terdekatmu sekadar menjadi pelepas lelah atau obat merah. Setelah itu lanjutkan lagi perjalanan memanjatmu dengan harapan. Bercerita itu perlu, sebab tanpa bercerita kadang siksaan karena harapan itu akan terlampau pedih, dan kamu akan memutuskan mengakhiri perjalanan dengan jalan instan: melompat jatuh ke dasar sumur, lalu mati meninggalkan dunia.

 

Yogyakarta, 12 Juni 2013

 

Aris Setyawan: Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan tiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia.

harapan skeptisme hidup filsafat albert camus absurditas mario teguh motivasi

Attitude & Signature ‘Istas Promenade’: Formula Album Baru Answer Sheet

( Dimuat di Jakartabeat, 27 April 2013. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/album/item/1740-attitude-dan-signature-istas-promenade-formula-album-baru-answer-sheet.html#.UY8mOEraHIU )



Pada umumnya kebanyakan orang menganggap nada dalam musik diatonis hanya ada 7, dari do hingga si. Itu nada mayor yang ceria, kemudian nada tersebut menjadi bertambah banyak saat divariasikan menjadi minor yang lebih menggambarkan suasana sedih. Nada dalam musik lantas semakin banyak jika ditingkahi dengan berbagai teknik misalnya menurunkan atau menaikkan setengah nada, mengganti nada dasar, dan lain sebagainya.

Sejak awal musik diatonis dimainkan manusia, semua kombinasi nada tersebut sudah diekplorasi jutaan manusia yang bermain musik. Seluas apapun eksplorasi nada pada musik, pada akhirnya akan ada satu dari sejuta musik itu yang identik dengan musik lain. Karena sempitnya ranah nada (diatonis) yang dieksplorasi.

Kemudian timbul pemikiran barangkali ini yang membuat beberapa musisi berhasil sukses meniti karir musik dan musik mereka dapat diterima masyarakat dunia, sementara beberapa lainnya tenggelam sebelum berkembang. Mereka yang tenggelam barangkali hanya sekadar membuat musik yang identik dengan musik lain yang sebelumnya telah ada. Mereka yang tenggelam tak mampu meramu formula khusus agar musik mereka dilirik.

Sementara bagi beberapa musisi berhasil, mereka menemukan formula tepat agar musiknya dilirik: attitude dan signature. Mereka menghadirkan keduanya dalam konsep bermusik mereka (baik dari citra band/musisi hingga musiknya) agar meninggalkan kesan bagi para pendengar bahwa “musik mereka beda dari yang lain.” Ibarat berdagang, musisi berhasil ini harus mengecapkan trademark atau merk dalam musiknya agar pendengar nggeh dan tergoda menikmati karya musiknya.

Formula attitude dan signature ini diterapkan oleh band menarik dari Yogyakarta. Adalah Wafiq Giotama, Mas Gilang Karebet, dan Abdullah Haq yang tergabung dalam Answer Sheet mencuri perhatian pendengar musik Indonesia dengan forumula tersebut. Meskipun sah saja saat orang bilang musik yang mereka mainkan tak jauh beda dengan “pop kebanyakan” (teman saya akan menyebutnya pop niaga) yang banyak beredar di pasaran. Namun trio ini menerapkan formula dengan mengeksplorasi ukulele, instrumen bersenar 4 yang setiap mendengarkannya orang akan menghubungkannya dengan Hawaii dan pantai.

Nah mereka sudah mendapat poin pertama, saat orang terlalu terbiasa dengan format konvensional band yang menghadirkan gitar, bass, drum, kadang keyboard. Answer Sheet mencuri perhatian dengan hadirnya ukulele dan beberapa instrumen akustik, ditingkahi dengan bebunyian sintetis keyboard. Jadilah orang berkata “wah musiknya beda.”

Poin kedua adalah pemilihan bahasa inggris untuk lirik lagu musik mereka. Para pendengar tak akan berani menuduh “pop kebanyakan” pada Asnwer Sheet karena lirik inggrisnya memang bukan tipikal lirik pop kebanyakan, lirik mereka adalah signature yang membuat pendengar musik akan memasukkan Answer Sheet dalam golongan indie (terminologi indie akan berbeda-beda di masing-masing orang, agar tak jadi perdebatan saya menyebut indie mengacu pada musik yang dianggap beda dan tidak seperti musik mainstream. Bukankah begitu pemahaman yang bertahan selama ini?) Sudah 2 poin, Answer Sheet siap meluncur, dan masih ada beberapa poin lain yang membuat mereka mendapat tempat di ranah musik negeri.

Setelah merilis EP berisi 3 lagu melalui netlabel asal Thailand SEAINDIE pada tahun 2010 silam. Answer Sheet akhirnya merilis album penuh mereka pada awal bulan maret lalu. Album berisi 10 lagu manis tersebut dirilis dan didistribusikan oleh Paperplane Recording, sebuah label independen Yogyakarta yang sebelumnya telah menelurkan album band twee-pop paling hype di Jogja Brilliant at Breakfast, serta album mengawang shoegaze Lazy Room. Bekerja sama dengan Senjahari Records, sebuah label dari Jakarta. Chapter 1: Istas Promenade adalah tajuk albumnya, dan inilah poin ketiga yang membuat Answer Sheet layak didengarkan penikmat musik: tema dan konsep dalam album.

Istas Promenade menceritakan sesuatu, dan pendengar pasti tergoda untuk mengetahui cerita didalamnya. Eksplanasi dalam sleeve CD album ini menceritakan Istas adalah tokoh imajiner (atau nyata?) yang tinggal di Promedealm, ujung paling utara bumi. 10 lagu dalam Istas Promenade mengajak pendengar mengikuti kisah hidup imajiner ini. Dapat dikatakan Istas Promenade adalah semacam perenungan proses perjalanan hidup manusia. Atau bisa saja album ini belum tentu bermaksud menceritakan hal itu, seperti diutarakan Wafiq Giotama bahwa tema dalam album ini justru muncul belakangan setelah semua lagu hampir selesai direkam.

Jadi bisa saja mereka bermaksud menceritakan hal lain saat menciptakan karyanya, namun memberikan konsep dan tema tentang Istas untuk memberi nyawa dalam albumnya, dan menyumbangkan poin ketiga yang membuat para pendengar tergoda mengikuti cerita Istas. Ah interpretasi memang akan berbeda di masing-masing orang. Baiklah, mari kita mulai berpetualang bersama Istas dan naganya, mengarungi kehidupan.

Album berdurasi 42 menit ini dibuka dengan intro instrumental Chapter 1: Istas Promenade yang entah bagi orang lain, tapi bagi kuping saya track pertama ini terdengar menggunakan (atau mirip) laras atau nada pentatonik ala madenda Sunda. Pendengar digiring memasuki Promedealm, lalu lagu kedua Hills of Rabbit Face menceritakan masa muda Istas dan naganya yang gemar berpetualang. Kisah petualangan ini diriuhkan dengan gubahan “wo o o o o o….wo….o o o o o….” yang pasti memancing penonton gigs mereka ikut bersorak riang.

Lalu The Pleasant Drink Of United Ink adalah sebuah pertanyaan retoris tentang “apakah memperjuangkan tanah kelahiran itu setimpal” dan sebagai pertanyaan retoris pertanyaan tersebut tak perlu dijawab karena kita semua sudah tahu jawabannya. Lagu ke 4 dengan ketukan ¾ nya adalah perenungan mengenai penyesalan karena datangnya cobaan hidup; A Regretful Season adalah saat dimana manusia terkadang akan sendiri dan kesepian, lalu menangis keras. Namun pada akhirnya penyesalan akan hilang saat semua masa buruk itu usai. Kocokan ritmis ukulele yang dinamis dan rapi mengawali Stay, Leave dan menjabarkan saat dimana Istas harus membuat berbagai pilihan untuk menyikapi berbagai kemungkinan yang ada. Hundred hours, with no directions / it will end, as elation / you may stay, you may leave / they probably go, and they probably win. / and I choose, to stay in here.

A Girl from Kyoto, instrumental tanpa lirik ini adalah saat dimana Answer Sheet bereksperimen dan mengubah haluan musiknya menjadi (jika boleh saya menyebutnya) shoegaze. Tema lagunya adalah tema yang sudah dibahas jutaan manusia dalam musiknya: cinta. Kali ini kecewa karena cinta yang dihadirkan saat Istas terdiam mengenang kekasihnya yang hilang, tiada karena perang.

Riverside yang didaulat sebagai single pertama dan sebelumnya diunggah di soundcloud Answer Sheet barangkali memang bakal menjadi favorit para pendengar. Lagunya sangat cocok untuk sing-along, dengan ritme ukulele catchy dan bangunan atmosfer dari synthesizer yang melingkupinya. Pendengar pasti merem-melek demi mendengar melodi membius synthesizer pada menit ke 3:30.

Yang ada dalam benak pendengar barangkali adalah kira-kira sungai tempat bermain Istas ini adalah sungai yang seperti di bumi bagian utara, atau sungai sejenis Kali Code di Yogyakarta, kota dimana para personil Asnwer Sheet tinggal. Kemudian One Last Smile yang simpel dengan vokal dan sebuah ukulele adalah semacam lagu penghiburan bagi kekasih yang murung. Sebuah hadiah “Don’t forget about my gift that rhyme to you.” Agar sang kekasih tak lagi nelangsa.

Sementara itu atmosfer pantai yang dibangun dalam Track ke 9 barangkali akan mengecoh pendengar menduga lagu ini tentang Hawaii. Karena progresi nada didalamnya mengarah pada suasana pantai, dan Hawaii biasanya muncul pertama dalam jajaran pantai terindah, terlebih ukulele kadung identik dengan Negara bagian Amerika Serikat itu.

Namun demi menengok judul A Love Beach, Sadranan pasti para personil Answer Sheet tengah terkekeh karena berhasil mengecoh pendengarnya. Pasalnya Sadranan adalah salah satu pantai di selatan Yogyakarta, lagu ini adalah mengenai cinta sepasang kekasih di pantai indah tersebut yang ditegaskan dengan bait ‘We were there holdin’ arms / You looked up on me, you smiled at me / You laughed and said, I love you.”

Kalau bisa dibilang keputusan berani diambil Answer Sheet, sebuah band dengan musik Hawaii yang liriknya berbahasa Inggris, namun mengeksplorasi wilayah lokal Yogyakarta dengan spesifik menyebut pantai Sadranan, mereka tak mau membiarkan pendengar berspekulasi apakah ini pantai di Hawaii atau di mana?

Berbeda dengan Riverside yang meninggalkan pertanyaan apakah ini sejenis sungai di utara bumi atau di Kalicode? Akhirnya Chapter 1: Istas Promenade ditutup dengan Replaced¸ lagu yang juga menggunakan ketukan ¾ ini barangkali adalah paradoks album ini. Karena dalam press release-nya Answer Sheet menyatakan Replaced menegaskan bahwa “Istas (dianggap) tiada. Lagu yang menggambarkan kilas balik.” Jika pada lagu penutup dengan sedikit unsur musik Perancis (akordeon dan pola valse) ini menegaskan bahwa “Istas (dianggap) tiada.” Lalu untuk apa tokoh Imajiner itu diceritakan panjang lebar di 9 lagu sebelumnya?

Namun bisa saja Answer Sheet sengaja melakukan hal itu, mereka tengah menegaskan bahwa kisah mengenai Istas bisa saja imajiner, bisa saja nyata ada. Ending dari album penuh ini seolah menegaskan bahwa ada garis tipis antara yang imajiner dan yang nyata. Dan Answer Sheet menyuruh pada pendengarnya santai saja menyikapi paradoks ini, dan enjoy dengan musik mereka. Santai seperti judul album ini Promenade, yang dapat diartikan juga sebagai Esplanade, sebuah tempat berjalan santai di pinggir pantai.

Ya, Answer Sheet berhasil dengan formulanya. Chapter 1: Istas Promenade adalah langkah awal mereka menjadi band yang akan diingat karena memiliki attitude dan signature, mereka akan meluncur meniti sukses layaknya Istas berpetualang, tidak akan tenggelam seperti batu dilemparkan ke sungai atau laut saat sepasang kekasih berjalan di tepiannya.

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

answer sheet indie pop pop music ukulele yogyakarta indonesia

Curhat Seorang Mahasiswa Etnomusikologi Yang Baru Saja Patah Hati

“Nilai Macam Apa Yang Akan Kita Wariskan?” karya mural Digie Sigit. Mengkritik borjuasi dan nilai yang akan kita wariskan pada anak cucu. Bisa diplesetkan menjadi “Nilai Macam Apa Yang Akan Kita Wariskan Pada mahasiswa Etnomusikologi berikutnya?”


Pertama perlu dipahami bahwa tulisan ini bukanlah makalah dengan basis teori rigid yang berangkat dari berbagai teori muluk-muluk. Tulisan ini murni didasarkan pada subyektifitas saya, seorang mahasiswa Etnomusikologi yang baru saja patah hati, dua kali lagi, yang pertama karena putus hubungan dengan seorang perempuan, yang kedua karena makin sadar telah menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu). Pelaku PHP itu adalah Etnomusikologi, disiplin ilmu yang kebetulan saya tekuni 3 tahun ini. Jadi jangan debat saya dengan teori muluk-muluk tentang apa itu Etnomusikologi yang ideal. Karena saya tidak bermaksud mendebat siapapun, kecuali menceritakan curahan hati saya. Akan lucu jadinya kalau orang curhat didebat dengan teori fungsi dan bentuk Etnomusikologi, sama lucunya dengan mendebat bapak presiden perihal kondisi ekonomi Negara via akun twitternya yang berisi kicauan mengenai sabtu-minggu berpiknik bersama cucu ke kebun binatang.Tuh kan belum apa-apa saya sudah melantur panjang, abaikan saja. Silakan berhenti membaca sampai disini sebelum terlambat.


            Mengapa saya merasa perlu curhat mengenai Etnomusikologi? Karena sejak lama terjadi perdebatan internal dalam disiplin ilmu ini (dan belakangan ramai diperbincangkan kembali di ISI Yogyakarta, entah di kampus lain) yang mempertanyakan: apa sih Etnomusikologi itu? Dan harus ngapain ilmu ini? Mau tak mau saya harus curhat karena saya kuliah di jurusan tersebut. Lantas kenapa saya memilih curhat dalam sebuah tulisan kurang berbobot ini? Karena seperti dibilang diatas, bila disuruh ngomong teori muluk-muluk Etnomusikologi saya tak akan mampu. Kenapa? Karena sejujurnya semenjak kuliah Etnomusikologi saya belum pernah membaca satupun buku teori Etnomusikologi, oh lupa, pernah baca satu yakni Anthropologyof Music karya Alan P Merriam. Itupun di semester 1 saat mata kuliah Pengantar Etnomusikologi menegaskan bahwa ini adalah kitab suci bagi Etnomusikolog, wajib dibaca. Namun semakin kesini saya justru makin meragu, alasan yang menyebabkan saya kurang mendalami literatur Etnomusikologi.

            Mari kita mulai curahan hati mahasiswa galau ini dengan poin pertama: Mengapa saya malas membaca buku teori Etnomusikologi? Karena ia membosankan. Semenjak kuliah saya dan para mahasiswa dinasehati bahwa kalian harus mencintai Etnomusikologi, lalu menggunakan disiplin ilmu ini untuk mempertahankan musik dan budaya Indonesia yang adiluhung. Lalu saya berpikir: bagaimana bisa kita dipaksa mempertahankan budaya menggunakan disiplin ilmu yang latar belakangnya adalah “berburu eksotisme budaya”? Lagi-lagi saya tekankan jangan debat saya dengan teori, ini murni hipotesis subyektif saya yang beranggapan Antropologi yang lahir dulu adalah ilmu dimana manusia kulit putih di ruangan wangi dan rapi menggunjingkan kulit hitam atau berwarna diluar keseharian mereka. Antropologi adalah ilmu yang awalnya ada untuk berburu eksotisme, kebudayaan atau manusia di luar mereka. Kenapa berburu? Karena semangat yang mendasarinya adalah kolonialisme dan ekspansi kekuasaan. Lalu anggap saja kita langsung melompati sejarah mengenai musikologi, dan mendadak lahirlah Etnomusikologi, disiplin ilmu yang meminjam musikologi sebagai ilmu menganalisis musik, serta antropologi sebagai ilmu untuk membedah budaya.Jadilah Etnomusikologi sebagai disiplin ilmu dimana manusia kulit putih menggunjingkan musik manusia kulit berwarna, musik diluar keseharian mereka warga Eropa.

            Sudah tidak sabar ingin mendebat saya? Tenang dulu, saya bakal makin ngawur ini. Lalu dengan disiplin ilmu yang didasarkan pada semangat kolonial berburu eksotisme ini, bagaimana cara kita menyelamatkan budaya bangsa? Barangkali inilah kenapa Etnomusikologi menghabiskan waktunya berburu eksotisme musik-musik di pelosok daerah. Jika dikatakan ini upaya agar mahasiswa merasakan bagaimana menjadi manusia Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan,Papua. Apakah dengan sekadar merasakan sesaat lantas budaya musik tersebut akan terselamatkan? Apakah dengan bermain Gamelan Jawa satu semester lalu musik tersebut akan terselamatkan dari kepunahan? Pada akhirnya mahasiswa hanya menganggapnya sebagai pengalaman, seperti yang dicita-citakan agar mahasiswa mengalami. Namun pengalaman itu akan hilang ditumpuk memori lain yang menyusul begitu deras dalam otak. Karena di semester berikutnya mereka harus memikirkan musik tradisi lain, belum lagi memikirkan hubungan dengan pacar yang mulai renggang, atau memikir strategi terbaik mengalahkan lawan di pertandingan sepakbola digital saat menyewa Playstation II di rental tetangga.

            Maksud saya adalah, apa faedah Etnomusikologi kelak jika ia hanya berhenti di pengalaman memainkan musik eksotis (yang tidak pernah dimainkan sebelumnya) dan membahas fungsi dan bentuk musik tradisi tersebut? Tentu saja mengkaji bentuk musik itu perlu, agar kita dapat membedah musik tersebut secara keseluruhan. Agar kita mengetahui bagaimana musik tersebut bisa dibuat.Tapi apakah lantas kita harus berhenti di bentuk dan fungsi saja? Analogikan dengan kejadian ini, saat kita bertemu seorang perempuan di jalan, yang pertama ingin kita ketahui adalah bentuk. Bagaimana manisnya wajah perempuan itu, bibirnya berlipstik merah, cerlang matanya, rambutnya sebahu terurai ditiup angin, hotpant dan tanktop yang dikenakannya terlihat begitu seksi. Nah, setelah tahu bentuknya, apakah cukup sampai disitu? Tidak,kita ingin tahu kontekstualnya, bagaimana teks-teks pendukung yang melingkupi perempuan itu: kuliah dimana ya dia, eh kira-kira suka makan batagor kayak aku juga enggak, atau yang paling krusial, kira-kira sudah punya pacar belum. Bila kita hanya mengkaji bentuk, ya cukup sampai disitu hasil akhir yang kita dapat, cukup sebagai pengamat yang mengagumi keindahannya. Beda dengan saat kita melanjutkannya dengan mendalami kontekstual perempuan itu, hasil akhir yang kita dapatkan adalah celah dimana kita bisa PDKT lalu jadian, njuk pacaran tiap malam minggu nongkrong di warkop Semesta, minum kopi hitam seharga 5 ribu.

            Kalau mahasiswa Etnomusikologi hanya dipaksa mendalami bentuk musik, serta mengalami rasanya menjadi manusia suku tertentu, ya mentoknya mereka cuma sampai segitu, menjadi pengamat, pengagum keindahan musik. Saat lulus apakah mereka masih ingat dengan semua pengalaman tersebut? Entah, faktanya gempuran memori lain lebih banyak. Maka mengkaji bentuk musik dalam Etnomusikologi itu perlu, namun harus dilanjutkan dengan kontekstual. Kita harus membuat Etnomusikologi menarik dengan cara mengedepankan kajian mengenai apa yang terjadi dengan musik tertentu dan kondisi masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Nah untuk membaca kontekstual tersebut Etnomusikologi harus dengan besar hati mengakui bahwa mereka meminjam berbagai disiplin ilmu lain. Kita harus tahu diri bahwa interdisipliner itu wajib dilakukan. Masalahnya saya sering menemukan kasus beberapa orang Indonesia berkata “untuk apa menggunakan ilmu dan teori-teori barat untuk mengkaji budaya Indonesia yang tidak mereka jalani?” inilah penyakitnya orang Indonesia, mereka mudah tersinggung dan malu saat perihal kebangsaan dan identitas diri dibicarakan. Mereka tidak terima bila budayanya dikaji dengan teori barat, tapi tetap tenang dan diam saja saat dalam ranah ekonomi dengan jelas semua orang mengendarai sepeda motor produksi Jepang, atau meminum Jack Daniel yang jelas-jelas bikinan orang barat. Semua orang mencapai konsesus dalam ranah politik saat hegemoni politik Amerika memaksa bapak presiden memperpanjang kontrak Freeport mengeruk gunung emas di Papua. Semua tenang kan? Marilah hilangkan kepongahan manusia timur kita yang sering tersinggung identitas kulturalnya, lalu mengakui bahwa kita memang belum mampu berteori sendiri, dan meminjam teori barat untuk mendedahkan macam-macam problema kultural di bangsa ini, seperti saat kita mengamini privatisasi perusahaan-perusahaan telekomunikasi terbesar Negara oleh pemodal asing. Jadi saat anda menelpon rekan Etnomusikolog anda di daerah lain, menggunjingkan pengaruh asing pada mental mahasiswa dan identitas kultural. Selamat, anda tengah menyumbangkan sekian rupiah pada keuntungan pemegang saham di Negara jauh sana.

            Sebentar kawan, jangan bosan dulu, curhatan saya masih panjang, sembari ngopi sajalah. Kita lanjut dengan poin berikutnya. Saya mendadak ingat WS Rendra, sastrawan serba bisa ini pernah menuliskan puisi “Sebatang Lisong” yang baitnya saya ingat sekali. “Apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan.” Agaknya puisi Rendra dapat dijadikan bahan kontemplasi terkait kontekstual yang harusnya dikedepankan Etnomusikologi. Entah, barangkali ini subyektifitas dan idealismesaya sendiri ya, tapi saya berpikir Rendra ada benarnya. Untuk apa Etnomusikologi membicarakan bentuk seni paling sempurna jika faktanya kondisi masyarakat sekarang menderita? Saya akan meminjam (lagi-lagi teori barat) piramida kebutuhan hidup Abraham Maslow yang mengatakan musik sebagai bentuk aktualisasi diri berada di puncak tertinggi piramida, sementara di paling dasar adalah kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan. Masyarakat bangsa kita sebagian besar masih berkutat di dasar piramida ini, arifkah akademisi seni berkeputusan mengkaji bentuk musik paling sempurna di puncak teratas tatkala masyarakat penikmat musiknya sendiri tertinggal di dasar piramida? Seperti apa yang dikatakan ST Sunardi: kampus seni terlalu sibuk mengejar kesempurnaan seni, hingga lupa pada common sense masyarakat, apa yang terjadi di masyarakat.

            Loh memangnya kenapa? Kita kan jurusan Etnomusikologi, ya kita memang harus mengkaji musik dong, yang bertugas ngurusin derita masyarakat kan pemerintah, atau disiplin ilmu sosiologi, atau ilmu politik. Nah loh, ini dia masalahnya, lalu apa faedah Etnomusikologi bagi masyarakat dunia? Apa sumbangsihnya pada kemanusiaan semenjak ditelurkan para penggagasnya dulu? Inilah saatnya kita mengubah haluan, Etnomusikologi boleh mengkaji bentuk kesenian atau musik tradisi, tapi jangan berhenti disitu, kita harus terus pada ranah kontekstual agar mendapatkan peta kondisi sosial bangsa ini, kemudian menggunakan peta itu untuk membikin cetak biru perbaikan kondisi. Karena menurut saya musik adalah peta sosial yang dapat dibaca. Saya pribadi malas menulis mengenai betapa adiluhungnya gamelan Jawa. Saya lebih tertarik menulis mengenai Jogja Hip-Hop Foundation, sebuah kolektif musik hip-hop yang berdiri di Jogja, namun mencampur musik pemberontakan kulit hitam itu dengan gamelan dan lirik bahasa Jawa. Grup yang terkenal karena meluncurkan single “Jogja Istimewa” di momen yang tepat: tatkala Yogyakarta menuntut keistimewaan. Etnomusikologi dapat membedah konteks menarik di lagu rap bercampur gamelan Jawa itu, bahwa keistimewaan Jogja sesungguhnya tidak melulu dianggap sebagai kebenaran tunggal oleh seluruh warga Yogyakarta. Sebanyak apapun lagu itu diputar di kota, barangkali tak akan terdengar di Kulonprogo sana, karena warga Kulonprogo menuduh keistimewaan Jogja sebagai biang tragedi tanah pertanian mereka akan digusur dalam rangka pembangunan tambang pasir besi oleh sebuah perusahaan. Perusahaan yang salah satu komisarisnya adalah anak penguasa keraton.

            Saya segan menulis mengenai musik di pedalaman Kalimantan. Alih-alih saya memilih menulis mengenai dangdut di Purawisata, musik rakyat yang selalu dituding sebagai musik kampungan, alat kampanye partai politik jelang pemilu, dan bagaimana Purawisata sebentar lagi digusur karena tempat berdirinya akan dibangun hotel, Etnomusikologi harusnya membaca gejolak sosial yang nyata di lingkungan sekitar ini. Etnomusikologi harusnya berbenah diri, meninggalkan mental berburu eksotisme, lalu mengkaji kondisi terkini bangsa ini, agar mampu memberikan sumbangan pada kemanusiaan. Masih relevankah kita mengikuti mazhab Bruno Nettl atau Mantle Hood yang merumuskan disiplin ilmu ini di kondisi dunia saat itu? Seperti Hegel bilang, seluruh proses kehidupan ini adalah dialektika. Ia berkembang terus menerus dengan 3 langkah tesis, antitesis, dan sintesis. Etnomusikologi adalah sintesis dari disiplin ilmu lain yang ada sebelumnya. Maka jangan berkecil hati saat sekarang Etnomusikologi harus dinegasikan oleh pemikiran baru yang lebih sesuai dengan kondisi dunia. Selayaknya ketoprak dan gamelan sebagai tesis, yang harus memudar dinegasikan antitesis berupa komedi situasi dan musik modern. Lalu bersintesis menjadi Opera Van Java.

            “Lalu langkah kongkritnya apa nih? Jangan Cuma bisa ngemeng doang dong!” Teriak seorang penonton di barisan belakang. Looohh, kan saya tadi sudah bilang, ini sekadar curahan hati seorang mahasiswa patah hati, jadi jangan berekspektasi berlebih dong. Saya tidak akan bisa berbuat apapun selain curhat. Yang bisa ya mereka-mereka, para begawan Etnomusikologi yang menentukan nasib dan arah hidup kita dengan ketok palu sebuah dogma bernama kurikulum. Saya ini siapa sih? Mahasiswa semester 6 di kampus Sewon yang bahkan belum pernah menuliskan satupun artikel Etnomusikologi di jurnal ilmiah. Kalau mau perubahan, mari rekan sesama mahasiswa galau berpikir, sadari posisi kita, dan jangan lupa belajar politik. Jangan mentang-mentang seniman njuk jadi apolitis. Sebab semua aspek hidup kita ini politis, termasuk nasib disiplin ilmu yang kita (terpaksa) cintai ini hanya bisa diubah dengan politik. Salah satu cara mendekonstruksi (saya tetap memakai kata dekonstruksi walau bakal dianggap aneh dan lebai dalam ranah kesenian) dogma kurikulum itu adalah dengan politik, ayolah, sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan juga harus menurut pada politik. Sejak masih menjadi pembahasan para penyusun kurikulum di kementerian pendidikan, hingga penerapannya di bangku-bangku sekolah. Jadi, yuuuukk kuliah yang rajin, agar cepat lulus, kemudian melamar kerja jadi PNS. Kalau sudah jadi PNS kan nanti kita mampu masuk ke sistem, kalau sudah masuk sistem kita jadi punya kekuatan politik kan. Itulah saatnya kita mengubah haluan Etnomusikologi menjadi lebih relevan dengan kondisi terkini. Sungguh mulia kan cita-cita lulusan Etnomusikologi? Menjadi pelayan Negara bertitel PNS. Bukankah itu cita-cita utama lulusan kita? Sebab di luar itu kita mau ngapain lagi? Dengan ilmu nanggung kita ini mau menelurkan teori baru juga mustahil, menggugat budaya massa yang sering dituding sebagai penyebab kematian musik tradisi juga tak mampu, malah kita mengamini budaya massa sebagai kesuksesan, rupanya bertahun-tahun digembleng di perguruan tinggi seni adalah strategi kita agar dapat menaklukkan kejamnya persaingan budaya massa itu? Baik dalam bentuk acara-acara pencarian bakat di TV. Atau pertunjukan budaya yang sesekali dibikin pemerintah dalam rangka pariwisata atau sloganeering “mempertahankan budaya bangsa yang adiluhung,” atau sudahlah, jadi PNS saja cukup nyaman.

            Okesip, cukup sampai disini curahan hati galau seorang mahasiswa yang patah hati. Jangan ditanya patah hati karena putus dengan pacarya, itu bakal bikin saya nangis lagi. Cukup dibahas yang patah hati karena Etnomusikologi saja. Ya, entah bagi mahasiswa lain, tapi saya patah hati. Karena Etnomusikologi yang saat masuk kuliah dulu saya anggap keren dan bakal berfaedah bagi kemanusiaan ternyata adalah pemberi harapan palsu. Harapan menyelamatkan budaya adiluhung bangsa ternyata baru berupa laboratorium uji-coba dengan kurikulum coba-coba yang masih terus dicari bagaimana idealnya. Ah, atau saya saja yang tidak sabaran ya. Wong Etnomusikologi masih seumur jagung kok. Filsafat saja butuh ribuan tahun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar manusia (dan sampai sekarang belum ketemu jawabannya, eh malah nambah pertanyaan lagi.), fisika harus ratusan kali berganti haluan karena teori yang baru selalu menegasikan teori lama, eh tiba-tiba kini ada fisika kuantum. Mungkin kita harus bersabar lebih lama ya agar Etnomusikologi sampai pada titik paling ideal. Kita harus bersabar. Sudahlah, jangan seperti Narsisus yang bermimpi mengubah haluan Etnomusikologi. Pada akhirnya kita hanyalah noktah di tengah kerumunan. Kemana kerumunan berjalan, mau tak mau kita harus ikut, kalau enggak ikut enggak lulus. Modyar, kalau sampai enggak lulus bisa celaka ini. Sebagai noktah, kita hanya bisa berharap mereka para penentu arah kerumunan ini mampu membimbing kita ke arah yang benar. Arah yang benar itu dimana? Tanya paman gugel saja, sama seperti saat kita bertanya padanya untuk bikin paper tugas kuliah, yang selalu dengan sukses mencetak nilai “A” di KHS kita akhir semester. Loh kok bisa lulus dengan bantuan gugel? Bisa dong, sistem penilaiannya mengijinkan penggunaan gugel kok, bahkan untuk tulisan yang copy paste dan tanpa dimoderasi sekalipun.

Yogyakarta, 28 April 2013

Aris Setyawan:  Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

etnomusikologi budaya sosial musik kajian kritisisme seni yogyakarta kemanusiaan indonesia

Surat Untuk Ikun: Mengenai Nasib Petani Di Negeri Ini

Gambar

Dear Ikun

            Apa kabarmu disana bung? Semoga sehat selalu dan tidak terkena godaan PHP yang terkutuk ya. Sudah begitu lama kita tidak berjumpa. Terakhir kali kita bertemu adalah beberapa tahun lalu saat kau masih mengikuti tes masuk kuliah di STAN. Kampus yang kau bilang aneh karena sekolah bukannya bayar malah dibayarin, lulus langsung bekerja. Dan jadilah kau sekarang bekerja di Kementerian Keuangan. Induk semang yang membiayaimu sekolah di STAN dulu.

            Aku mengirim surat ini karena aku rindu kawanku bung, dan aku kehilangan kontakmu. Mendadak Facebook dan Twittermu dinonaktifkan, sementara nomor handphone juga raib entah kemana. Semoga kau sudi meluangkan waktumu membaca surat ini, di tengah kesibukanmu mengurusi pajak Negara yang pasti bikin dahi berkerut-kerut saking rumitnya.

            Lalu aku ingat masa kecil kita bung, di sebuah desa kecil di lereng Lawu. Dimana kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani, karena lahan di desa kita sangat cocok untuk ditanami berbagai sayuran. Cabai, tomat, wortel, bawang, kubis, kentang, dan lain sebagainya. Masa kecil kita yang bahagia di tengah indahnya alam pegunungan dan makmurnya kehidupan para petani, entah kenapa tak memancing imajinasi kita agar bercita-cita menjadi petani. Profesi kedua orang tua kita memang berbeda bung, bapakku petani tulen, sedangkan bapakmu guru SD. Namun dengan lingkungan sekitar penuh petani, kita tak pernah dengan bangga menyebutkan cita-cita kita suatu hari ingin jadi petani. Seolah menjadi petani adalah sesuatu yang tak dapat dibanggakan. Maka kau lebih memilih belajar teori makro-mikro-ekonomi dan segala tetek bengek perhitungan keuangan agar kelak menjadi ekonom wahid, sedangkan aku memilih kabur ke Yogyakarta, kota sejuta budaya untuk belajar kesenian dan cara membikin sebuah karya elitis yang tidak dapat dimengerti orang banyak.

            Apakah setiap hari kau menghitung pajak Negara Ikun? Kalau ada waktu libur sempatkanlah berkunjung ke Jogja. Nanti aku ajak kau jalan-jalan. Tapi jangan berharap kau akan kuajak jalan-jalan ke kota Jogja, menuju Malioboro yang semakin macet setiap waktu, atau membayangkan seperti apa puteri raja dulu mandi di Tamansari. Kau tahu sendiri watakku bagaimana, aku harus selalu mencari masalah. Maka aku tak mau meracunimu dengan yang indah-indah melulu persis update status halaman Facebook “Yogyakarta” dan “Jogja” yang isinya membiusmu dengan racun “Jogja itu selalu baik-baik saja.” Tidak Ikun, Jogja tidak baik-baik saja. Di tengah keindahan dan kenyamanan Jogja tentu tetap saja ada masalah.

GambarGambar

            Nah aku ajak kau jalan-jalan ke Kulonprogo. Biar kau tertarik aku ceritakan dulu ya bagaimana saat aku jalan ke sana beberapa waktu yang lalu. Kulonprogo itu kabupaten bung, setelah menempuh perjalanan dengan motor kurang lebih satu jam dari rumah kontrakanku di Bantul. Tibalah aku di Karangwuni. Minggu itu di Karangwuni ramai sekali, jalanan dipenuhi oleh ratusan hampir ribuan orang. Mereka menuju ke satu titik, sebuah halaman dengan atap tidak permanen dan tikar digelar. Orang yang kebetulan lewat barangkali bakal menduga orang sebanyak ini mau pengajian, apalagi ada musik hadrah dimainkan. Namun kerumunan orang ini bukan mau mengaji Kun, mereka hendak merayakan ulang tahun ke tujuh Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo. Dan jangan harap perayaan ulang tahun ini bakal dipenuhi cipratan air comberan dan ceplokan telur mentah persis yang dilakukan anak muda kebanyakan duit lainnya dong! Perayaan ini dipenuhi orasi Kun, teriakan-teriakan lantang yang isinya adalah menolak adanya pertambangan pasir besi hendak didirikan di Kulonprogo. Mereka ini para petani yang marah, karena lahannya, satu-satunya yang membuat mereka hidup hendak diminta paksa. Para petani ini penuh semangat rawe-rawe rantas malang-malang putung siap mati mempertahankan tanahnya tersebut.

Tentu saja para petani ini berang, bayangkan ini Kun. mereka mengolah lahan tersebut semenjak tahun 1980-an, dari lahan gersang tak produktif menjadi lahan yang subur dan mampu menghasilkan tanaman sayur –mayur yang bagus. Sayurannya sama dengan yang dihasilkan daerah kita, cabai, tomat, dan lain sebagainya. Namun ini tentu membuatmu tercengang, mereka menanam diatas pasir Kun. bukan ditanah subur dan bagus seperti di desa kita. Luar biasa kan? Wajar jika kemanusiaan mereka seperti dilecehkan tatkala perjuangan mereka mengolah lahan itu semenjak tahun 80-an harus mengalah pada keserakahan tipikal manusia yang mengejawantah dalam sebuah korporasi bernama JMI (PT. Jogja Mangasa Iron) yang sejak tahun 2005 berupaya mendirikan tambang pasir besi, diatas lahan pertanian. Petani di Kulonprogo yakin memperjuangkan lahan pertaniannya Kun, karena mereka yakin bila tambang pasir besi beroperasi di Kulonprogo, akan aada pemiskinan struktural dan banyak masalah lain timbul. Mereka lantang berteriak “BERTANI ATAU MATI.”

GambarGambar

            Iya Ikun aku tahu, logikamu sebagai ekonom tentu mau bicara banyak perihal kepemilikan toh? Kamu pasti mau berkata “loh itu tanah yang mereka garap bukannya milik Sultan Jogja? Dan saat Sultan menginginkan tanahnya untuk dibikin tambang pasir besi ya sah-sah saja dong?” nah, aku suntikkan logika nurani padamu deh biar kau melek. Apakah lantas dibenarkan bagi seorang pemimpin yang dianggap pengayom oleh rakyatnya untuk mengambil sesuatu yang menjadi hajat hidup rakyatnya tersebut? Integritas sang pemimpin disini dipertanyakan, lebih membela rakyatnya, atau pengusaha dan korporasi multinasional yang pemiliknya barangkali tengah berleha-leha main golf di California sana.

            Negara itu sudah mati Kun, Negara adalah sebuah kedaulatan usang yang sekarang ini lebih banyak melegitimasi dan membantu penguasa dunia yang sesungguhnya: korporasi. Barangkali sang penguasa daerah yang terkenal dengan gudeg ini adalah bagian dari tidak hadirnya Negara dalam berbagai sengketa rakyatnya. Kau pernah nonton Spongebob Squarepant The Movie kan? Diceritakan saat raja Neptunus kehilangan mahkotanya karena dicuri Plankton, watak feodalnya muncul. Dengan semena-mena hendak mengeksekusi Mr. Crab sebagai tertuduh, lalu saat Bikini Bottom porak-poranda dikuasai Plankton yang menghipnotis semua orang, sang raja malah sibuk mengurusi kepalanya yang botak tak tertutup mahkota. Loh kau heran kenapa aku malah bercerita tentang film si kotak kuning? Karena inilah wajah bopeng feodalisme Kun. Dibalik slogan mengayomi dan kewibawaan demi kesejahteraan rakyat, feodalisme sebenarnya akan selalu mementingkan kesejahteraan sang penguasa dan keluarganya sendiri. Nanti kalau ke Kulonprogo kau harus berkenalan dengan mas Widodo, beliau ini petani juga, dan koordinator gerakan menolak tambang pasir besi ini. Mas Widodo bilang dia sempat menuju Filipina untuk mengikuti seminar di University of Philipines. Lalu menyatakan bahwa “memang ada kerabat dari keraton yang berinvestasi di sini (tambang pasir besi), seperti Pembayun dan Prabukusumo. Ini juga saya sampaikan dalam seminar internasional, ini bentuk keraton tidak prorakyat,” katanya. Ada cinta terlarang penguasa dengan korporasi disini. keberpihakan pemerintah pada investor lebih kuat (PT JMI menjanjikan royalty sebesar 3 % per tahun).
Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah peran sentral karena menjabat
sebagai Gubernur, Raja, dan Pengusaha tidak memberi jalan bagi
pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif, namun hanya
menyerahkan persoalan ini pada proses politik di tingkat kabupaten. Nuansa
nepotisme PT JMI dan dominasi kepentingan pribadi elit kasultanan dan
paku alaman pada proyek ini kuat ditandai dengan keberadaan Pembayun
(puteri Sultan) dan kerabatnya sebagai komisaris, hal ini dibuktikan dengan
akte notaris PT JMM (sebelum berubah menjadi JMI).

            Semuanya adalah mengenai cinta terlarang Kun, bukan cinta terlarang seperti yang diceritakan lagu “Sephia” Sheila On 7 atau “Kekasih Gelap” nya Ungu. Tapi cinta terlarang antara penguasa dengan korporasi dan mental kapital. Baik itu penguasa daerah, maupun penguasa Negara. Kau tahu kan kalau presidenmu, beliau terlibat cinta terlarang dengan partai birunya. Praktis cintanya pada Negara tentu akan berkurang, maka menjadi wajar jika Negara saat ini tak akan hadir untuk memenuhi tanggungjawabnya mengurai permasalahan di Kulonprogo. Jangankan Kulonprogo, di Bekasi yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan saja tak tersentuh, sehingga para Jemaat Ahmadiyah teraniaya tanpa adanya campur tangan Negara melindungi warganya.

Ikun yang baik, kau dan aku harusnya sadar, bahwa kita dan banyak anak muda lain memang memilih hidup masing-masing sesuai keinginan. Namun paling tidak kita harus sadar bahwa tanpa petani, apa gunanya semua uang yang kita kumpulkan dari pekerjaan kita? Tanpa petani tak ada produk pangan dihasilkan, saat itulah kita baru sadar uang itu tidak enak dimakan, dan petani sebagai penghasil pangan berperan penting menyokong kehidupan.

Lalu aku ingat Bapakku Kun, beliau barangkali sedang di kebun cabainya, menyemprotkan pestisida atau menyiangi rumput liar. Beliau dan para petani di lereng Lawu tentu masih cukup beruntung dapat menanami lahannya dengan tenang, tanpa ada sengketa dengan kuasa. Ingin rasanya suatu hari aku mengajak beliau, dan para petani desaku singgah ke Kulonprogo. Sekadar menilik bagaimana kerasnya perjuangan saudara sesama petani mereka, atau sekaligus memberikan dukungan moral.

Ayo Kun segeralah balas surat ini, lalu putuskan kapan kau mau ke Jogja. Aku siap antar kau ke Kulonprogo. Agar setelah melihat dengan mata dan kepalamu sendiri, kau bisa ceritakan di Jakarta sana, ke kawan-kawanmu di Dirjen Pajak. Atau update status di Facebook dan Twittermu. Ceritakan bahwa disaat televise biru membual tentang restorasi Indonesia yang lebih baik atau banalnya kabar mengenai Adi Bing Slamet yang berang merasa ditipu Eyang Subur, disaat generasi kita sibuk memperdebatkan mana yang lebih baik antara menjadi hipster atau alay, saat Ibukota dibombardir konser-konser artis internasional dengan harga tiket melebihi gajiku sebulan waktu bekerja sebagai pelayan rumah makan bebek goreng dulu, di Kulonprogo tengah ada gejolak besar, gejolak mengenai upaya menyelamatkan nyawa ribuan manusia yang menggantungkan hidupnya pada pertanian, pertanian yang dianaktirikan dan hendak digusur demi pertambangan dalam rangka profit sejumlah golongan.

GambarGambar

Nasib petani di negeri ini apakah akan membaik Kun? Kau sebagai orang ekonomi harusnya menghitung dong, bagaimana jadinya kalau tak ada petani di negeri ini! Ah Indonesia adalah negeri agraris itu sungguh hanya sebuah mitos, mitos yang dipertahankan untuk membesarkan hati petani. Karena faktanya petani tak mendapat keistimewaan. Saat mereka membela lahan mereka justru mereka dianggap sebagai warga Negara yang tidak baik dan mencari huru-hara. Pak Tukijo adalah salah satu petani Kulonprogo yang ditangkap dan dipenjara karena mempertahankan lahannya. Ini bukan negeri agraris Kun, ini negeri preman.

Wah suratku terlampau panjang ya. Maaf Kun, aku sedang bersemangat. Semoga kau baik-baik saja di ibukota sana, jangan sampai semangat hidupmu musnah tergerus kejamnya jalanan Jakarta ya. Kita harus tua di desa kita, menikmati masa tua di desa. Jangan sampai kau tua di jalan (Jakarta). Semoga saat kita menikmati masa tua di desa kita, masih ada generasi yang menjadi petani. Bantu aku berdoa pula Kun, semoga para petani di Kulonprogo tetap sehat dan bersemangat memperjuangkan haknya, sembari menyanyikan lagu nasional “Maju tak gentaaaarr membeeeela yang benaaaarr.”

Salam, dari sahabat masa kecilmu yang merindukanmu.

Yogyakarta, 6 April 2013.

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

GambarGambar

1 note petani kulonprogo yogyakarta indonesia politik sosial kritik negara feodalisme kapitalisme

Konser Intim Tiga Band ‘Suara Tujuh Nada’ di Yogyakarta

( Dimuat di Jakartabeat, 11 maret 2013. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/konser/item/1707-konser-intim-tiga-band-suara-tujuh-nada-di-yogyakarta.html#.UUS8sBfIYl8 )

Foto: Harumi Puspaharini

 

Rumah itu terletak di sebuah gang sempit di kawasan Bugisan, Yogyakarta. Di depannya terbentang pemandangan sawah luas. Rumah itu adalah markas dari Teater Garasi, sebuah tempat yang mewadahi kesenian teater, musik dan lain sebagainya. Dan mendadak pada Kamis malam, 7 Maret 2013 lalu rumah di gang sempit pinggiran kota itu penuh dengan ratusan orang. Dress coderatusan yang hadir itu seolah disulap sama: tipikal para scenester dan pemburu musik cutting edge. Ya, ratusan orang yang memadati Teater Garasi malam itu sedang menghadiri konser musik. Dan konser tersebut bertajuk “Suara Tujuh Nada.”

Suara Tujuh Nada adalah konser tur 3 kota yang dipromotori oleh Rain Dogs Records dan G Production, sebuah Event Organizer yang melambung namanya saat mengorganisir gelaran tahunan Djakarta Artmosphere. Teater Garasi di Yogyakarta adalah tempat beruntung yang disinggahi tur 3 kota ini, setelah malam sebelumnya digelar di Maja House Bandung. Kemudian malam berikutnya setelah Yogya, rombongan tur mengakhiri perjalanannya dengan konser terakhir di Taman Agro Denpasar, Bali.

Adalah Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari, serta White Shoes and The Couples Company (WSATCC) yang didaulat menjadi headliner dalam tur 3 kota ini. Tiga nama yang sudah menjadi perbincangan hangat di scene musik (jika boleh saya menyebutnya indie atau cutting edge) di Indonesia. Kontan dengan tiga nama besar tersebut yang bermain, menjadi jaminan bahwa tiap konser yang digelar di 3 kota akan penuh penonton, sebab masing-masing band tentu memiliki fanbase tersendiri yang cukup besar.

Maka malam itu 200-an lebih penonton yang hadir mengenakan atribut band yang disukainya, dengan tertib memasuki Teater Garasi setelah pintu dibuka tepat pukul 8 malam. Lalu para penonton duduk nyaman di bangku yang disediakan, yang tidak kebagian bangku memilih duduk lesehan di depan panggung tanpa adanya keluhan. Dan dimulailah kemeriahan konser Suara Tujuh Nada di Teater Garasi Yogyakarta.

Duo Folk Pembuka

Risky Sasono, gitaris dan vokalis band Risky Summerbee and The Honeythief yang bertugas menjadi MC malam itu membuka konser Suara Tujuh Nada dengan memanggil penampil pertama. Naiklah ke atas panggung Elda dan Adi yang tergabung dalam Stars and Rabbit. Duo folk asal kota Gudeg yang bisa dibilang muncul belakangan ketimbang Dialog Dini Hari maupun WSATCC.

Meskipun baru muncul, penampilan Stars and Rabbit cukup diperhitungkan sebagai band dengan keunikan tersendiri. Salah satu keunikan tersebut adalah, mereka biasa tampil dengan formasi 2 orang di tiap konsernya, termasuk malam itu. Adi pada departemen gitar, dan Elda bertugas membius penonton dengan vokal khasnya, dan sesekali memainkan instrumen pendukung seperti tambourine (Elda menyebutnya “icik-icik”), Maraccas, pianika, dan lain-lain.

Stars and Rabbit mengalunkan “I’ll Go Along” sebagai lagu pertama, disusul “Catch Me” dengan ritmis reggae yang catchy dan membuat kepala bergoyang. Setelah “Catch Me”, Elda sempat melontarkan canda ke penonton dan rekan satu bandnya Adi, inilah keunikan lain dari Stars and Rabbit, guyonan renyah sering muncul membuat para penonton terpingkal. Semua orang seolah dipaksa ikut tertawa saat Elda dengan entengnya berkata “begini rasanya kalau bermain dengan band yang lebih dulu terkenal, mules rasanya. Sudah gitu mereka pada nonton lagi.

Lalu sembari bernyanyi Elda memainkan pianika di “You Were The Universe”. Koor massal sempat terjadi saat “Like It Here” dan “Worth It” dibawakan, menandakan bahwa sekalipun menganggap diri band baru, reputasi mereka sudah cukup besar dan makin mengokohkan fanbase mereka. “Old Man Finger” menyusul dibawakan, lalu duo folk yang setahun lalu sempat bermain di panggung yang sama dalam “Live at Teater Garasi” ini menutup penampilannya dengan lagu terakhir “Man Upon The Hill.”

Para penonton yang hadir tentu puas saat Stars and Rabbit membawakan 7 lagu malam itu. Boleh dibilang penampilan mereka luar biasa, karena hanya dengan 2 musisi band ini sudah mampu menghadirkan eargasm to the max.Mereka tidak membutuhkan instrumen konvensional lain sebagai pendukung, absennya drum, bass, atau keyboard sekalipun sudah tertutupi dengan permainan gitar Adi yang cukup mumpuni, yang kadang mengocok emosi penonton saat dinamika dinaikturunkan, atau tempo diubah-ubah sesuka Adi.

Dan tentu saja faktor utama yang membuat karakter musik mereka kuat adalah suara khas Elda yang tiada duanya. Karakter suara Elda ibarat emas yang disemburkan tenggorokannya, lalu memaksa kuping penonton memperebutkannya. Elda adalah bintang malam itu, dia sangat menyadari bahwa dirinya adalah bintang dan sangat nyaman dengan posisinya sebagai bintang di panggung.

Kharisma sebagai bintang itu tak muncul dengan sendirinya, kharisma itu muncul hasil dari gemblengan saat Elda menjadi vokalis dari sebuah band pop rock mainstream bernama Evo. Elda mengakuinya sendiri saat seorang penonton dideretan depan berteriak “Evo” dan Elda langsung berkata “bagaimanapun tanpa band itu saya tak akan menjadi seperti ini dan Stars and Rabbit tak akan ada.”

Barangkali saat Elda berkata “Aku tuh nyanyinya mellow-mellow loh, kok muka kalian pada kelihatan seneng sih?” ia tak menyadari muka penonton kelihatan senang karena mereka memang bersenang-senang dengan musik Stars and Rabbit. Konon pendengar musik akan menganggap sesuatu yang dilakukan artist idolanya luar biasa meskipun sang artis sebagai bintang menganggap hal yang dilakukannya biasa saja.

Elda boleh saja menganggap lagu-lagu gubahannya semacam “curhat” pribadi, namun subyektifitas perasaannya yang diaransemen dengan bagus dalam musik-musik Stars and Rabbit pada akhirnya membius para pendengarnya menjadi senang, dan kebanyakan yang hadir di konser malam itu tentu menunggu debut album duo folk tersebut dirilis.

Penjiwaan Dialog Dini Hari

Selepas Stars and Rabbit, Risky Summerbee sebagai MC naik kembali ke panggung, kali ini ia ditemani Ugoran Prasad (Ugo) vokalis band cultMelancholic Bitch. Keduanya sempat menjelaskan sekilas mengenai Teater Garasi dan program-programnya, lalu memanggil band kedua untuk naik panggung. Suara riuh penonton meledak saat Dadang SH Pranoto (vokal & gitar), Michael Brozio Orah (Bass), dan Putu Deny Surya Wibawa (Drum) yang bergabung dalam Dialog Dini Hari naik panggung.

Band yang sebelumnya adalah band proyek sampingan sempalan dari 2 band Bali yang lebih dahulu terkenal yakni Navicula dan Kaimsasikun ini kini menjadi bukan sekadar band sampingan lagi. Tak dapat dipungkiri Dialog Dini Hari telah menjadi band utama dengan fanbase militan yang besar dan tempat terhormat di skena musik sebagai band dengan musik folk, blues, akustik dan lirik dalam tentang kehidupan, cinta, alam dan manusia.

Koor massal tak terbendung saat Dadang sang gitaris sekaligus vokalis mendendangkan “Jerit Sisa” ; “Rehat Sejenak” ; “Satu Cinta” ; “Renovasi Otak” ; “Pelangi” ; “Beranda Taman Hati” ; “Aku Adalah Kamu” ; “Pagi” ; “Lengkung Langit” dan “Oksigen.”

Wajar jika Ugo mengatakan Dialog Dini Hari adalah band yang harus ditontonlive-nya karena mereka sangat menjiwai setiap permainan musiknya. Hal itu terbukti dengan bagaimana Dadang bernyanyi dan memetik gitarnya seolah tak ada lagi hari esok, sound gitarnya yang akustik mengalun manis di band ini, berbeda 180 derajat dengan saat ia harus berdistorsi gahar di band grunge Navicula. Sementara Zio pada bass terlihat enjoy membetot senarnya, mengawinkan ritmis bassline-nya dengan hentakan drum Denny yang bermuka kalem di belakang setdrum, sekalipun bermuka kalem, gebukan stick-nya tidak kalem. Tempo terjaga rapi, dan fill drumnya sering mengejutkan.

Lagi-lagi 200-an lebih penonton di Konser Suara Tujuh Nada malam itu tentu mengalami eargasm. Semua orang sepertinya puas, para penonton dan fans berat Dialog Dini Hari tersenyum riang. Dialog Dini Hari juga nampak bersenang-senang dan puas, terbukti dengan Dadang yang menjanjikan akan segera kembali bermain di Yogya lagi. Ya, mereka puas bermain di depan audience Yogyakarta yang selalu mengapresiasi setiap penampilan musik di konser dengan sangat baik.

Kejutan-Kejutan WSATCC

Sudah dua band yang tampil, namun konser Suara Tujuh Nada di Teater Garasi malam itu belum berakhir. Masih ada satu band lagi bertanggungjawab memainkan musiknya. Setelah disuguhi curhatan manis Stars and Rabbit, dan diajak berfilosofi dan merenungkan kehidupan oleh Dialog Dini Hari, berikutnya penonton diajak naik mesin waktu menuju era 60-an dan 70-an, saat celanacutbray adalah segalanya dan hotpants belum begitu digdaya. Ya, inilah saat WSATCC bermain di panggung.

Band jebolan fakultas seni rupa IKJ ini menyajikan musik ala 70-an, dengan formula pop, funk, jazz, beat disco dan kadang swing. Penonton yang duduk di bangku mendadak tak bisa tenang, tubuh mereka seperti otomatis bergoyang resah menyaksikan penampilan Aprilia Apsari (vokal), Ricky Virgana (bass), Saleh bin Husein (gitar), Yusmario Farabi (gitar) dan John Navid (drum). Aksi mereka memang memukau, atraktif dan menyenangkan. Walaupun sangat disayangkan malam itu WSATCC harus kehilangan atmosfer vintage dan fill sound synthesizer 70-an di lagu-lagunya karena absennya Aprimela Prawidyanti sang kibordis yang sedang berhalangan hadir.

Sembari berdansa-dansi dengan gaya khasnya, Sari sang vokalis mendendangkan “Sabda Alam”, “Masa Remadja”, dan “Senja Menggila.” Dengan format penuh seperti biasa mereka lakukan di tiap show (minus keyboard tentunya). Pada lagu ke empat, WSATCC memberi kejutan dengan bereksperimen, nampaknya hal ini untuk menutupi kekurangan akibat absennya departemen keyboard dan synthesizer. Jadilah Ricky Virgana meletakkan bassnya lalu memainkan sebuah Cello, lalu dengan mendayu WSATCC membawakan “Nothing to Fear”, “Bersandar”, “Runaway”, dan “Today Is No Sunday.”

Saat membawakan “Runaway” Sari menceritakan betapa istimewanya lagu itu, merupakan lagu pertama WSATCC yang diciptakan saat pameran seni rupa “Dialog Dua Kota” hasil kerjasama kawan-kawan seni rupa IKJ dan ISI Yogyakarta. Seolah Sari ingin menegaskan bahwa antara dua perguruan tinggi seni itu ada hubungan baik yang terjalin sejak dulu, hingga sekarang.

Kejutan berikutnya dihadirkan White Shoes saat Sari memutuskan mundur kebackstage, lalu para cowok yang tersisa memutuskan membentuk “sebuah band dalam band.” Mereka saling bertukar instrumen di lagu “La Javanese” di mana John Navid yang biasa menggebuk drum di belakang mendadak dipaksa membetot bass hingga terkesan kaku dalam memainkannya, Ricky beralih ke gitar dan bernyanyi sedangkan Rio Farabi pindah ke drum, sedangkan Saleh masih setia dengan Gibsonnya.

Kemudian “band dalam band” ini bertukar instrumen lagi, Saleh pindah ke drum, John mendentingkan nada manis Glockenspiel, Rio membetot bass, dan Ricky pada gitar mulai melantunkan hits lama band legendaris Pure Saturday; “Pathetic Waltz” yang seolah melegitimasi betapa band pop Bandung itu sangat dihormati oleh banyak band lain setelahnya. Persistensi membuahkan respect,seperti diungkapkan Ricky yang menyatakan “Pure Saturday adalah salah satu band idola saya.”

Sesi “sebuah band dalam band” harus diakhiri saat Sari kembali ke panggung dan para lelaki kembali ke instrumen masing-masing. Penonton dihibur dengan lagu yang akan segera dirilis dalam EP terbaru mereka, 2 lagu daerah berjudul “Lembe-Lembe” dan “Te O Dendang.” Lagu yang seolah menjadi pengingat bahwa WSATCC sempat menjadi band pendukung kampanye penyelamatan Lokananta, arsip musik nasional dan studio legendaris yang nyaris bangkrut di pojok kota Solo.

WSATCC menutup penampilannya dengan lagu yang pasti disuka banyak orang, “Aksi Kucing” menimbulkan suara nyaring “meong-meong” di seluruh penjuru ruangan. Sebagai akhir yang manis, band yang sempat merilis album di label asal Amerika Minty Records ini menghadiahkan sebuah encorebertajuk “Kapiten.” Dan tuntaslah konser Suara Tujuh Nada di Teater Garasi, Kamis malam itu.

Menanti Seri Konser Berikutnya

Semua penonton pasti berterimakasih dalam hati kepada G Production yang menyajikan konser dengan skala kecil namun intim ini. Kecil karena kuota penonton yang hanya dibatasi 200 tiket, intim karena setelah konser selesai para penonton bisa bercengkerama dengan artis yang barusan ditontonnya, entah sekadar berfoto maupun ngobrol. Sepertinya G Production juga akan membawa konser kecil dan intim ini ke tataran berikutnya, hal ini terbukti dengan ditulisnya dalam pamflet bahwa ini konser seri pertama, berarti akan ada seri berikutnya. Jika di seri pertama saja sukses begini, dapat kita simpulkan bagaimana suksesnya konser berikutnya.

Konser Suara Tujuh Nada di Teater Garasi ini juga menarik dari segi besarnya animo penonton yang hadir. Tiket yang disediakan sebanyak 200 buah sudahsold out 2 hari setelah penjualan tiket dibuka. Sementara mereka yang tak kebagian tiket terpaksa cukup puas menonton di luar venue melalui speaker dan layar yang disediakan panitia, padahal dengan banderol 50 ribu per tiket bisa dibilang cukup mahal dibandingkan konser-konser musik lain yang pernah digelar di Yogyakarta. Apalagi Teater Garasi sebagai venue konser yang terletak di pinggiran kota Yogya, berbeda dengan Purnabudaya UGM, JNM, atau stadion Kridosono sekalipun yang tepat berada di jantung kota.

Namun kombinasi yang tepat dari strategi marketing dari mulut ke mulut, ditambah value yang ditawarkan dimana 3 band yang tampil adalah band yang di atas rata-rata. Dan penyebaran info yang massif dan viral di social media,mendongkrak gengsi konser ini sebagai konser luar biasa dengan kesan ekslusifitas tinggi karena hanya 200 orang yang beruntung dapat menonton. Dan ramailah para scenester Yogya memburu tiketnya. Walau sebenarnya maksud panitia membatasi kuota penonton bukan untuk memunculkan kesan ekslusif, sesuai penjelasan Lintang Sunarta selaku Project Director konser Suara Tujuh Nada dibatasinya jumlah tiket hanya 200 buah mempertimbanganvenue yang hanya mampu menampung kapasitas 200-an orang.

Akhirnya penonton pulang dengan senyuman, setelah puas dengan ‘suara tujuh nada’ yang menggema dari tiga band berbeda. Panitia tentu juga puas konsernya berjalan dengan lancar, malam berikutnya rombongan tur berpindah ke pulau Dewata. Dan semua orang punya harapan yang sama: semoga tahun depan kepuasan itu dapat hadir kembali saat ada seri berikutnya dari konser Suara Tujuh Nada, entah dengan artis yang sama maupun berbeda.

 

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

3 notes musik indie indonesia yogyakarta teater garasi wsatcc stars and rabbit dialog dini hari

Membaca Gejala Dari Jelaga

Warning: Sebelum membacanya terlalu jauh, ini bukan mengenai sebuah grup rap politik asal Bandung bernama Homicide. Ini merupakan curahan hati bimbang seorang lelaki biasa yang bermimpi menjadi peternak kucing yang hobi menanam wortel. Jadi sebelum terlambat, jangan teruskan membaca.

To whom it may concern.

Awalnya biasa saja, kamu datang dengan sebuah senyuman yang menenangkan, sikap yang membuat nyaman. Begitu menggoda, hingga aku tergoda, lantas berpikir: kenapa Tuhan menciptakan perempuan begitu menggoda? Jika ada istilah playboy atau lelaki hidung belang, para lelaki itu tidak salah, tentu Tuhan yang harus disalahkan, sebagai pencipta, mengapa ia menciptakan perempuan begitu menggoda? Hingga melahirkan terma lelaki hidung belang yang suka lirik perempuan yang menggoda?

Kamu datang dengan hati yang luka, itu yang kubaca sejak pertama kamu mendekat. Ada sebuah jejak tertinggal di sudut kecil itu, jejak yang sepertinya membuatmu nelangsa. Tapi apa iya kamu nelangsa? Karena kamu justru bangga dengan adanya jejak itu, seolah berusaha mengejar apapun yang meninggalkan jejak dihatimu itu tanpa lelah.

Tapi kamu memunculkan isyarat, sebuah tanda. Konon setiap aspek kehidupan ini memunculkan tanda, sesuatu yang melahirkan semiotika, sebuah ilmu untuk membedah tanda-tanda. Karena semunya iklan rokok di televisi dan senyum licik politikus sekaligus pemilik media dapat dibaca dengan semiotika. Celaka, aku terlampau percaya pada kemampuanku membaca tanda. Roland Barthez dan Ferdinand De Saussure harus menangis didalam kubur mendengar umpatanku: semiotika tak mampu membaca tanda cinta. Isyarat mengenai afeksi ini tak mampu didedahkan dengan ilmu tanda. Ia kadang menipumu dengan hebatnya sampai sesuatu yang kau anggap sebuah tanda cinta yang amat jelas sekalipun ternyata tak mampu kau baca. Hal ini membuatku mendapat pencerahan: tak semua hal bisa dijelaskan dengan logika. Dalam hal ini perasaan dan cinta adalah sesuatu itu, ia ada namun transenden, di luar logika.

Karena kamu datang, menggodaku dengan sebuah isyarat, bahwa kamu ingin mencoba menghapus jejak itu, dan berharap aku menjadi pria yang menghapus jejak tersebut. Ah, aku salah membaca isyaratmu, itulah yang kumaksud diatas, aku salah membacanya.

Tapi jangan salahkan aku dong. Salahkan senyummu yang manis itu, atau bagaimana kamu berusaha menyamakan apa yang menjadi seleramu agar sama dengan seleraku, mendadak kamu bilang Radiohead itu keren karena aku menyukainya, padahal kamu menggilai musik Jepang yang dinamis, kesuraman musik dan lirik Thom Yorke dan koleganya dari Oxford tentu tak bakal menempel di sanubarimu. Tapi mendadak kamu membahas band itu, dan mengiyakan saat aku bilang ada kaitan antara Radiohead dengan Haruki Murakami: keduanya sama-sama absurd dan suram.

Salahkan kejutan-kejutan yang kamu hadirkan padaku. Bayangkan ini, hati pria mana yang tak tergoda menyimpulkan kamu suka padaku saat kamu sering mengejutkanku dengan sikap-sikap itu. Sikap yang kadang menegaskan itu adalah isyarat cinta. Karena kamu cerdas, berpengetahuan luas, tentu kamu telah membaca tentang fenomenologi kan? Aku baru saja membaca buku yang mengulas fenomenologi Emmanuel Levinas. Konon segala yang ada di dunia ini adalah fenomena, dan setiap fenomena tersebut akan berbeda sesuai pengamatan dari sang pengamat. Segalanya adalah interpretasi pengamat, hasilnya akan berbeda, fenomena yang disimpulkan seseorang akan berbeda dengan orang lain.

Mungkin itulah kenapa ini terjadi, aku membaca sikapmu sebagai isyarat cinta, kamu membacanya sebagai sikap biasa, sesuatu yang selalu kamu lakukan kepada setiap temanmu. Baiklah, maaf kalau diatas tadi aku menyalahkanmu karena menggodaku, kamu tidak salah karena itu subyektifitasmu yang kamu lakukan seperti biasa kepada seluruh temanmu. Barangkali yang salah indraku, karena ia memberikan informasi palsu hingga kesimpulan yang dihasilkan pemikiranku salah.

Karena kamu menyanjungku dengan asa, harapan bahwa aku akan menjadi lelaki paling beruntung di dunia jika aku dapat mengobati lukamu. Aku terbujuk godaan itu, aku mengikuti alurmu, aku mengorbitkan diriku padamu, aku mengikuti kemana putaran oval orbitmu. Ibaratkan kamu planet, aku siap menjadi satelit yang menyertaimu berputar. Namun kamu tentu pernah mendengar kasus saat sebuah satelit tak mampu mengiringi planetnya, ia akan hancur lebur, menjadi serpihan kecil asteroid yang malih rupa menjadi cincin saturnus.

Kemarin aku sempat merasa menjadi lelaki paling pintar sedunia. Pintar karena aku dapat membaca isyaratmu, dan menjadi obat bagi lukamu. Tapi sekarang aku merasa menjadi lelaki paling bodoh sedunia. Ya, bodoh. Karena hanya orang bodoh yang mau membahas perkara perasaan dan cinta dengan filsafat dan logika, mencoba mengaitkan perihal suka sama suka dengan ilmu tanda dan semiotika. Lalu ngomong panjang lebar tentang pertentangan rasionalisme dan empirisme dalam fenomenologi hanya untuk ngomong cinta bertepuk sebelah tangan. Bodoh sekali kan aku ini? Seorang lelaki bodoh yang tak tahu apa-apa tentang asmara dan bicara panjang lebar biar kelihatan pintar.

Akhirnya lelaki biasa ini hanya mampu membaca gejala dari jelaga. Saat semuanya terbakar hangus tak bersisa, menyisakan jelaga hitam yang menempel di hati. Lelaki ini harus belajar membaca jelaga itu, gejala apa yang terjadi? Nah, aku barusan selesai membaca “Kafka On The Shore”nya Haruki Murakami yang kamu pinjamkan. Ada satu kalimat dari buku itu yang harus kukutip sekarang: “In this whole wide world the only person you can depend is you.” Jadi aku harus bergantung pada diriku sendiri sekarang untuk membaca gejala dari jelaga itu. Sementara kamu harus bergantung pada dirimu sendiri untuk mengejar siapapun itu yang pernah meninggalkan jejak dihatimu. Jangan mengajakku lagi, karena sumpah, ternyata aku tak mampu berlari mengikutimu. Aku baru sadar sekarang: aku terlalu sok kuat, padahal aku rapuh. Sedangkan kamu adalah perempuan yang kuat.

Yogyakarta, 14 maret 2013.

NB: Siapapun yang membaca tulisan ini boleh menganggapnya fiksi atau nonfiksi. Karena toh batas antara yang fiksi dan nonfiksi kini sudah sangat tipis kan?

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

1 note

Menjadi Manusia

 

Sebut saja namanya Pletho. Remaja berusia kurang lebih 16 tahun ini berkeliaran di jalanan, bersama sekitar 24 orang temannya tinggal dan mencari nafkah di sekitar Jl. Mangkubumi hingga perempatan Tugu Yogyakarta. Julukan untuk mereka cukup eksotis, dalam rangka menaikkan derajat kita sebagai manusia normal, serta memarjinalkan mereka, lantas kita menyebut mereka “anak jalanan.” Anak-anak yang tinggal di jalanan. Konon mereka tidak menjadi manusia karena tinggal di jalanan, sedangkan kita yang punya standar hidup (yang kita anggap normal) sesuai jaman sekarang mengganggap diri kita berhasil menjadi manusia.

Memang parameter untuk menjadi manusia itu seperti apa sih? Jika dinilai secara kasat mata, asalkan dia berkaki dua dan berjalan tegak dan berpakaian bukankah itu manusia? Anak-anak kurang beruntung yang berkeliaran di seputaran Tugu Jogja itupun adalah manusia. Tapi pernahkah kita menilai mereka sebagai manusia? Saat kita memburu eksotisme Jogja dengan berfoto di tugu, pernahkan kita memperhatikan mereka sebagai manusia?

Kemudian saya teringat piramida kebutuhan Abraham Maslow, maka parameter menjadi manusia adalah puncak tertinggi piramida itu yakni kebutuhan aktualisasi diri, berbeda dengan binatang yang kebutuhan dasarnya untuk mempertahankan diri adalah dengan makan dan kawin saja. Dan mendadak gaya hidup modern adalah kebutuhan aktualisasi diri tersebut. Semua orang mengejar kehidupan modern agar dianggap hidup normal. Semua orang mengaktualisasi dirinya modern dengan mengejar setiap trend kehidupan modern. Kelas atas menggunakan aktualisasi diri modern itu untuk melanggengkan posisinya sebagai kasta tertinggi, kelas menengah mengejar aktualisasi diri modern itu untuk berupaya menaikkan derajat menjadi kelas atas, sedangkan kelas bawah terseok-seok mencoba mengejar ketertinggalan, berusaha sekuat tenaga mengaktualisasikan diri secara modern agar dianggap sebagai manusia.

Maka Pletho dan kawan-kawan senasibnya berusaha keras agar dianggap manusia, sekalipun kehidupannya keras dan tinggal di jalanan, ia berusaha mengabaikan fakta bahwa kebutuhan dasarnya sebagai manusia untuk memiliki sandang, pangan, papan, belum terpenuhi. Karena Pletho ingin menjadi manusia, ia harus mengikuti standar modernisasi agar menjadi manusia, maka ditengah kesibukannya mengejar manusia lain dengan gitar kencrung mengharap recehan, atau beberapa rekannya akan menadah gelas bekas mie instan di lampu merah, mereka akan menghabiskan uang tersebut untuk menuju warnet dan mengakses Facebook dan Twitter. Ya, karena Facebook mereka anggap satu-satunya cara agar mereka juga dapat mencicipi standar hidup modern manusia.

Mengakses Facebook 5 jam sehari menjadi biasa bagi mereka, jatah makan terpaksa disunat sedikit untuk mengakses situs Mark Zuckerberg tersebut. Dalam benak Pletho dan kawan-kawan tentu tersirat “aku tak punya rumah tinggal, lalu untuk apa kuhabiskan waktuku di Facebook? Ah, tapi inilah cara agar aku menjadi manusia seperti yang lain.” Selain menghabiskan waktu di Facebook, rata-rata anak-anak yang tinggal di Jl. Mangkubumi ini memiliki telepon genggam. Tanpa henti mereka memencet tutsnya untuk sms-an atau malah menelpon rekannya yang berada di tempat lain. Mereka juga akan membelanjakan uangnya di minimarket biru atau merah, sekadar membeli air mineral atau rokok (dengan tatapan sinis penjaga minimarket yang barangkali berpikir aduh bajunya kucel anaknya kotor, ngapain masuk kesini). Karena manusia modern gemar membelanjakan uangnya juga di minimarket yang lebih bersih dan elegan ketimbang warung sederhana milik tetangga.

Inilah kejanggalan menjadi manusia, kita yang lebih beruntung memiliki rumah tinggal dan tak pusing memikirkan bagaimana makan siang lantas mengurung diri kita dalam kungkungan modernisasi (hayoh siapa yang tak memiliki Facebook, Twitter dan telepon genggam? Apakah anda menganggap menguasai teknologi itu? Atau teknologi itu yang menguasai anda?). celakanya kita lantas menjadikan kungkungan modernisasi itu sebagai standar hidup menjadi manusia. Dan anak jalanan yang kemanusiaannya sudah diabaikan dengan terpaksa tinggal dijalanan, akhirnya terseok-seok berupaya menjadi manusia dengan menghabiskan uangnya di warnet-warnet untuk sekedar memberi jempol “like” pada status teman Facebooknya, teman yang barangkali tak benar-benar dikenalnya. Mereka harus melupakan fakta bahwa mereka tak punya rumah, harus berantem dengan kelompok anak jalanan lain untuk berebut wilayah, harus lari tiap Satpol PP datang menangkap (dengan alasan pembinaan). Harus meminta uang pada orang asing untuk dapat membeli makanan, harus ngelem agar mabuk dan melupakan realita.

Tapi kemudian saya berpikir, jangan-jangan Pletho dan kawan-kawan anak jalanan sadar bahwa mereka dilupakan masyarakat modern? Maka mereka Facebook-an dan bertelepon genggam ria untuk melupakan fakta bahwa mereka manusia terlupakan. Itu adalah penghiburan diri, benteng terakhir mereka menghadapi kerasnya hidup di jalanan. Renungan panjang ini membuat saya mengernyit jengah, betapa menyedihkannya menjadi manusia modern. Yang berkecukupan Facebook-an dan Twitter-an untuk bersenang-senang dan melupakan kelas dibawahnya, sedangkan kelas bawah Facebook-an dan Twitter-an untuk berusaha menaikkan kelas, dan melupakan fakta bahwa mereka dilupakan dan tak dianggap manusia.

 

Yogyakarta, 9 februari 2012.

 

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

2 notes

Seni Tanpa Batas

Siang itu seperti biasa warung rakyat Mas Poer ramai oleh para mahasiswa ISI Yogyakarta yang lapar dan memutuskan makan di sana karena harganya yang aduhai, murah. Saya adalah salah satu mahasiswa lapar itu. Ketika saya tengah menyantap nasi berlauk sayur bayam dan tempe, tiba-tiba telinga saya tergelitik suatu bunyi, kemudian mata memutuskan menatap ke luar, rupanya ada pengamen sedang menggenjreng gitarnya. Mengharap recehan dengan jasa sepenggal nada. Yang membuat saya tergelitik adalah, gitar sang musisi jalanan ini benar-benar fals, dan suaranya saat bernyanyi juga tak tepat nada.

            Lalu ingatan saya kembali ke saat saya menonton pertunjukan musik noise. Musik berisik yang menghadirkan keriuhan eksplorasi bunyi, kadangkemresek bak radio rusak, kadang muncul feedback yang biasanya dihindari para pemusik. Noise ini kurang lebih sama dengan musik yang dihadirkan mas-mas pengamen di atas, malah noise lebih maksimal menyajikan chaos bunyi.

            Dan anehnya, meski kedua musik di atas sama-sama menghadirkan musik yang bisa dianggap out of tune, saya lebih menghargai yang kedua. Noisesaya anggap keren dan aneh, unik, luar biasa. Sementara mas-mas pengamen hanya mendapat grundelan saya yang menyatakan “fals kok berani ngamen.” Pastinya bukan hanya saya yang mengernyit jengah pada mas pengamen, semua yang hadir di warung Mas Poer siang itu pasti merasakan hal yang sama, begitu juga semua orang. Tentu yang hendak dibicarakan disini bukan perkara falsnya mas pengamen. Tapi mengenai apa itu seni dan idealnya seni itu harus seperti apa.

            Dalam bukunya “Vodka dan Birahi Seorang Nabi.” ST Sunardi, seorang pengajar di berbagai kampus di Yogyakarta dan seorang penelaah Nietzsche yang cukup mumpuni mengutip Deleuze dan Guattari yang mengatakan bahwa seni “wants to create the finite that restores the infinite.” Maksudnya seni ingin membuat sesuatu yang terhingga, namun dapat menghadirkan sesuatu yang tak terhingga, sesuatu yang tiba-tiba memaksa kita menggali memori kita akan sesuatu di luar karya seni itu. Dalam kasus mas pengamen dan musik noise di atas, kita cenderung lebih menghargai yang kedua karena keyakinan kita akan premis Deleuze dan Guattari tadi. Karena kita mengganggap motif diciptakannya musik noise adalah dalam rangka menerapkan premis seni membuat the finiteyang menghadirkan the infinite. Premis inilah yang akhirnya juga membuat kita menghargai dan menyanjung pelukis abstrak atau surreal, seabsurd dan sejanggal apapun karya lukisnya. Karena kita mengamini bahwa goresan penanya adalah refleksi dari the infinite, tak terhingganya hidup.

            Lalu mengapa mas pengamen tak mampu mendapat perlakuan yang sama dari kita? Mengapa ia kita abaikan, bahkan kita anggap tak tahu diri berani mengamen tanpa nada. Karena kita menganggap mas pengamen tak memiliki motif yang sama dengan musik noise. Motif mas pengamen jelas pragmatis dan realistis: ekonomi. Dia berharap recehan-recehan dari genjrengan gitarnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak ada motif mencoba mengeksplorasi yang tak terhingga dalam genjrengan gitarnya. Demikian pula dengan coretan-coretan gambar di tembok-tembok sekitar kita yang kadang di buat anak-anak kecil. Bukankah kadang gambarnya juga menarik? Namun kita anggap itu sebatas aksi vandalisme belaka, tak mampu mendapat penghargaan yang sama seperti coretan kuas pelukis. Karena kita anggap motifnya adalah vandalisme, bukan bermaksud membuat the finite yang hadirkan the infinite.

Memang seni adalah mimesis kehidupan. Ia ibarat mesin fotocopy, yang menyalin hidup, mencetaknya dalam seni, isi dalam seni itulah the infinite, mimesis dari hidup tadi. Namun perkara di atas memunculkan paradoks berikutnya. Jika seni yang ideal harus yang menghadirkan the infinite persis musik noise dan lukisan abstrak. Sedangkan mas pengamen dengan motif ekonomi, dan anak-anak kecil yang menggambar tembok kita anggap vandal. Bukankah itu namanya tidak adil? Apakah pada akhirnya seni tanpa batas ini terbatas hanya boleh dinikmati oleh mereka yang mengerti seni dan berusaha mengeksplorasi kesenian itu? Lalu bagaimana dengan manusia awam di luar tembok kesenian itu? Mereka yang tidak mengerti ilmu seni namun dalam kehidupannya berkesenian. Anak-anak kecil menggambar tokoh kartun idolanya di tembok sekolah memang vandal, barangkali anak itu tak mengerti kaidah estetika dan perihal mimesis. Namun tak dapat dipungkiri ia telah berkesenian dengan mencoretkan gambarnya di tembok. Mas pengamen memang bermusik dengan fals dan bernyanyi sumbang, serta bermotif ekonomi dalam keseniannya. Namun bukankah seni musik yang ia tawarkan demi recehan itu juga adalah kesenian? Artinya mas pengamen sudah berkesenian.

            Lagipula jika kita selalu menjustifikasi seni yang berlandaskan motif ekonomi sebagai buruk, tidak nyeni, tidak estetis. Lalu mengapa kita tidak menjustifikasi hal yang sama pada seni-seni yang dihadirkan di televisi, di ajang pencarian bakat (yang rajin kita ikuti), di FTV, di acara-acara pariwisata, pameran lukisan di galeri-galeri, dan lain sebagainya yang jelas-jelas hasil komodifikasi budaya massa yang bermotif ekonomi ketimbang menyajikan the finitedan the infinite. Barangkali karena seni-seni yang dihadirkan dalam gelimang budaya massa itu telah dipoles sedemikian rupa, maka kita memberi pengecualian pada seni budaya massa, mereka tak mendapat justifikasi buruk sama seperti saat kita menjustifikasi mas pengamen dan anak-anak pencoret tembok.

Atau jangan-jangan kita tak menjustifikasi seni budaya massa karena kita terbiasa dengan budaya massa? Kita adalah calon seniman yang dididik untuk memburu kesuksesan dalam gelimang keglamoran budaya massa. Maka kita bahagia dan bangga saat seni kita hadir di layar kaca, atau karya seni kita laris secara kuantitas. Kita belajar seni agar kelak mampu taklukkan budaya massa dan menjadi juara. Kita berusaha mengejar rekor bermain musik 24 jam dengan anggapan inilah upaya mengabadikan budaya. Naïf memang, sebab budaya butuh waktu panjang dan proses dialektika agar menjadi sebuah budaya yang lantas dijalani di kehidupan. Tak bisa secara instan dilahirkan dalam 24 jam lalu semua orang wajib mengamininya. Mengutip Jakob Sumardjo yang menyatakan seni adalah tentang bentuk dan nilai, kita sibuk memperbanyak kuantitas bentuk, sampai lupa mengasah kualitas nilai. Jangan-jangan kampus seni juga sibuk berupaya mengejar kesempurnaan centre of excellence sampai lupa pada common sense masyarakat? Sampai kita lupa perkara membuat the finite yang menyajikan the infinite dalam karya seni kita.

            Untuk mengurai paradoks pembicaraan mengenai seni tanpa batas ini, saya merasa perlu mengutip sajak “Sebatang Lisong” karya WS Rendra. “Apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan.” Apakah artinya seni kita menjadi sukses dan glamor di budaya massa jika kita terpisah dari derita lingkungan dan seni kita tak mampu menjadi mimesis derita itu? Apakah artinya berpikir agar seni kita menjadi elitis dan representasi dari the finite yang menyajikan the infinite jika hal itu membuat seni kita menjadi elitis dan terpisah dari masalah kehidupan? Selamat pusing memikirkannya. Atau saya sendiri yang pusing memikirkannya karena toh semua orang baik-baik saja?

Yogyakarta, 14 Desember 2012.

Aris Setyawan:  Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

seni budaya kritik estetika sosial politik yogyakarta isi yogyakarta

Sebuah Kesan Mengenai Keheningan Bunyi

Sesaat kau mendulang asa bersamaku

…..

Kemudian hening.

…..

Sebuah kesan mengenai keheningan bunyi

…..

Kemudian hening.

…..

Kamar gelap menolak cahaya

…..

Kemudian hening

…..

Sementara itu televisi masih berkoar menebarkan kebohongan

…..

Kemudian hening.

…..

Dan aku terkapar tanpa daya di sudut, menanti suaramu yang nisbi.

…..

Kemudian hening.

Yogyakarta, 24 November 2012.

sajak puisi melankolia galau afeksi

The Act of Killing: The Act of Questioning

( Dimuat di Jakartabeat 03 desember 2012. http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/1626-the-act-of-killing-the-act-of-questioning )

Trio Jagal. Foto dari google.co.id


Setelah menonton film dokumenter karya Joshua Oppenheimer ini 2 kali, tetap saja saya masih belum bisa memahami realitas yang dipaparkannya. Belum bisa memahami bagaimana bisa manusia menjadi reinkarnasi iblis dan membunuh manusia lain saat manusia lain tersebut berbeda keyakinan. Sejak dahulu sejarah memang membuktikan bahwa manusia bisa saling bunuh atas nama ideologi. Dan The Act of Killing (TAoK) memaparkan dengan gamblang pembunuhan atas nama ideologi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Pembunuhan dan pembantaian terhadap para penganut paham komunisme (bahkan mereka yang tak mengerti apa itu komunisme namun jadi tertuduh) yang mendapat pembenaran oleh kata sakti nasionalisme dan ideologi pancasila.

Bahkan setelah 2 kali menonton dokumenter ini sekalipun, saya masih bingung harus menulis apa dalam review sok tahu ini. Mungkin saya harus menontonnya ulang 2 atau 3 kali lagi untuk mendapatkan kedalaman makna. Karena memang saya tidak berkompetensi dalam bidang sinematografi jadi ulasan mengenai teknik film disini justru akan membuat saya terkesan sok tahu. Saya juga tak terlalu paham psikoanalisa dan psikologi jadi saya tak akan mampu memahami Congo seperti di ulasan ini yang mengatakan bahwa Anwar Congo dan para pembantai PKI di film ini adalah bagian dari Banality of Evil, dimana mereka yang bisa membunuh tanpa merasa bersalah dan berdosa adalah mereka yang mengganggap perbuatannya itu benar. Meskipun merasa diri tak mampu saya tetap gatal mau menulis tentang TAoK. Jadi dalam review sok tahu ini saya hanya akan menuliskan sedikit kesan dan kegalauan.

TAoK tiba-tiba menampar muka saya dengan keras (dan harusnya menampar muka bangsa ini), bahwa selama berpuluh tahun kita dibohongi orde berkuasa yang menyatakan komunisme itu paham tak bertuhan yang harus dibasmi dengan cara apapun. TAoK memang bukan kajian ilmiah yang memaparkan data-data. Namun TAoK adalah cara jitu memaksa orang menggali lebih dalam. Film jenius ini sukses mengobrak-abrik kemapanan berpikir kita agar bertanya lagi “apa iya realitas yang dihadirkan disitu benar terjadi di Indonesia?” Lalu mau tak mau kita harus membaca data lain, mencari buku John Rossa yang dilarang beredar, atau memburu buku Soe Hok Gie tentang pembantaian yang terjadi di Madiun.

Pertanyaan paling mendasar yang dilontarkan adalah “bagaimana bisa Anwar Congo, Adi Zulkadry, dan para pembantai lainnya mampu bercerita dengan gamblang cara menghabisi nyawa para tertuduh PKI, tanpa rasa bersalah?” pertanyaan itu terjawab dengan dihadirkannya analisis mengenai struktur dan agen. Anwar Congo dan para preman lain (termasuk organisasi PP) hanyalah agen, mereka adalah kelas bawah yang didoktrin untuk menghabisi nyawa orang. Itulah kenapa mereka tak merasa bersalah, sebab mereka meyakini tindakan jagal mereka benar, tidak berdosa, membela kedaulatan dan persatuan bangsa. Keyakinan itu dengan mudah tertanam di benak mereka (dan banyak agen-agen lain misalnya di masa sekarang dalam salah satu Ormas agama yang banyak membuat huru-hara) karena kondisi yang memaksa mereka percaya, kemiskinan, tak ada pekerjaan, orang akan melakukan apa saja termasuk meyakini doktrin saat terdesak kondisi. Agen menjadi alat kuat menghabisi nyawa manusia-manusia tertuduh komunis. Sedangkan struktur adalah sistem kuasa yang memanfaatkan para agen ini demi kepentingan mereka. Struktur adalah penghegemoni, pemaksa, penguasa. Strukturlah sumber dari segala rencana.

Struktur dalam hal ini adalah Negara. TAoK menggambarkan bahwa strukturlah yang sebenarnya bertanggungjawab atas terjadinya pembantaian massal 1965. Penggambaran struktur itu dimanifestasikan dengan adanya Gubernur Sumatera Utara yang dekat dengan Anwar Congo, (Mantan) Wakil presiden Jusuf Kalla yang mengatakan “PP sebagai preman dibutuhkan demi kemajuan bangsa” lalu salah satu anggota DPRD yang membeberkan apa kongkalikong PP dengan para pejabat. Hingga (mantan) menteri pemuda dan olah raga yang ikut syuting adegan pembantaian Kampung Kolam. Hadirnya para aparatur Negara dalam dokumenter ini sedikit banyak sudah menghadirkan fakta bahwa Negara (struktur) lah yang bertanggungjawab dalam pembantaian massal atas nama penumpasan ideologi terlarang komunisme itu, sedangkan Anwar Congo dan para algojo lain hanya alat (agen) yang dimanfaatkan. Analisis struktur dan agen ini juga dapat kita gunakan memecah problema gencarnya premanisme berbagai ormas yang terjadi belakangan ini. Ormas itu hanya agen, ada struktur lebih tinggi di atasnya yang memerintahkan segala hal demi kepentingan politik mereka. Tiba-tiba kepala kita tergetok palu “ternyata selama ini kita tinggal di Negara pemuja premanisme.”

Joshua Oppenheimer tak perlu hadirkan sadisme ala slasher atau thriller dalam dokumenternya. Secara psikologis TAoK ini lumayan sadis hanya dengan hadirnya para penjagal sebagai aktor utama. Jarang-jarang ada dokumenter tentang pembantaian massal yang dibintangi oleh para pembantai aslinya. Dengan begitu saja film ini sudah sedemikian sadis. Josh juga cukup bermain semiotika untuk beberkan ironi dari realita. Dengan memunculkan adegan Anwar Congo dan Herman Koto yang tinggal di rumah kecil tipikal rumah kontrakan perkotaan, sementara itu ada seorang pengusaha kaya pamerkan koleksi berlian dan pulau pribadi untuk kandang burung, serta pimpinan PP yang asyik bermain golf dan menggoda caddy girl. Kita bisa tahu bahwa ada semacam komparasi disini. Perbandingan bahwa para agen seperti Congo tangannya akan selalu kotor oleh debu dan darah, namun kehidupannya tetap berada di bawah.

Sementara struktur tak tersenggol dan hidup nyaman dalam kemewahan karena kepentingan dan tujuannya tercapai. Hal yang harusnya membuat kita berpikir ulang sebelum menghakimi para agen sebagai yang bersalah, karena kadang mereka hanya terdesak kondisi, tak tahu ideologi atau keyakinan apa yang sebenarnya mereka perjuangkan, namun harus dilakukan karena disetir struktur. Bila ada yang harus disalahkan dan digugat adalah struktur teratas.

Bukti dari premis bahwa kadang agen hanyalah alat ditunjukkan saat film mendekati akhir dimana Congo menangis sesenggukan setelah menonton hasil syuting adegan dirinya disiksa sebagai korban pembantaian. Kemudian Congo muntah-muntah saat mencoba menceritakan kembali caranya menghabisi nyawa. Apa yang ada dipikiran Congo barangkali adalah penyesalan “bagaimana kalau ternyata apa yang kulakukan dulu salah?” Josh berhasil hadirnya kemanusiaan Congo kembali disini. Walau memang ada agen yang terlanjur yakin tindakan pembunuhannya benar, seperti Adi yang tetap tak merasa berdosa dan sesumbar “silakan undang saya ke Den Haag untuk diadili.”

Akhirnya saya harus mengikuti gaya bahasa anak jaman sekarang dan cuma bisa bilang wow terkait film The Act of Killing (Jagal). Saya harus menontonnya beberapa kali lagi, lalu mencari literatur pendukung lain agar tahu sejarah kelam bangsa ini. Kenapa kita harus tahu? Agar kita belajar dan tak jatuh ke lubang kelam yang sama. TAoK sukses menyulut pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana mungkin kita senyaman itu dibohongi rezim berkuasa selama berpuluh tahun? Bagaimana bisa kita hidup nyaman dalam hipokrisi premanisme (berkedok free man alias manusia bebas) Negara ini? Dan tiba-tiba saya mempertanyakan kesucian pancasila sebagai ideologi Negara. Sesuatu yang ditanamkan pada saya sebagai ideologi paling mulia semenjak saya duduk di bangku SD, hingga kini di bangku kuliah dimana filsafat pancasila diajarkan oleh seorang dosen jebolan Lemhanas yang sumpah pemikirannya adalah tipikal agen yang didoktrin struktur rezim berkuasa dulu. Karena kemuliaan ideologi yang ditanamkan kepada saya sejak kecil itu mendadak menguap lenyap oleh fakta bahwa untuk mempertahankan kemuliaan itu harus dilakukan segala cara, termasuk mengenyahkan pemikiran yang tidak sejalan dengannya.

Pertanyaan terakhir yang harus dilontarkan pasca menyimak TAoK adalah “apa dibenarkan menghabisi nyawa manusia lain demi mempertahankan keyakinan yang kita anggap paling benar?” silakan jawab sendiri dengan rasa kemanusiaan terdalam masing-masing.

Yogyakarta 21 November 2012.

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

1 note the act of killing jagal komunisme pki gerwani indonesia anwar congo sejarah orde baru nasionalisme pancasila ideologi genosida joshua oppenheimer medan